Sabtu, 10 November 2018

TRAVELING KE ANGKOR WAT (PART IV - END)


Hello good readers! Please open the links below before you read “Traveling ke Angkor Wat (Part IV – END)”:

Note : Don’t forget to use “Translate Feature” on my blog and choose a language you like (more than 100 languages, including Japanese – Korean – Khmer – Thai – and so on). Thank you so much!
After exploring Angkor National Museum in Siem Reap – Cambodia, I walked to the Wat Bo where located in the south of Happy Guesthouse (my accommodation). Wat Bo is the second biggest Buddhist monastery in Siem Reap and one of the important monasteries in a whole country. 
The architecture is so incredibly unique between Ancient Khmer - Angkorian and Post Angkorian styles with impressive ornaments of a little bit Hindu – more Buddhist symbols. So quite monastery and no tourists! Just me, monks, and local people outside of the monastery. I was so tired and relaxed a while on the seat, in front of the main building. 
www.tripsavvy.com  
Karena saya terbiasa memasuki Wat di Thailand saat traveling pada tahun 2016 silam, saya tidak rikuh ketika bertemu biksu. Untuk menghormati para Biksu (Bikkhu)  atau “Bhante” , cukup lakukan gesture “Wai” kalau istilah Thai-nya atau “Anjali” dalam istilah India-nya. Di Indonesia juga banyak yang melakukan gesture ini tetapi saya tidak tahu istilah yang tepat itu apa. 

Setelah puas mengelilingi Wat Bho, saya kembali ke Happy Guesthouse untuk mandi dan istirahat. Kemudian jam 05.30 PM, Pak Tan Sok Met menjemput saya untuk menuju Amazon Angkor. It’s time for cultural performances! Oh My Gosh! Sepanjang perjalanan menuju Amazon Angkor, begitu banyak bis, motor, Rmok dan mobil berlalu lalang! Macet guys!
Ternyata lumayan jauh juga tempatnya. Akhirnya sampai juga setelah hampir 20 menit terjebak kemacetan. Saya lapar sekali dan langsung diarahkan oleh pelayan. I love buffet! Saya mendapat tempat duduk istimewa yang berada paling depan sisi kanan panggung, dekat dengan para pemain musik. Yes! Thank you Pak Tan Sok Met! 

Wow! Beberapa makanan yang tersedia begitu familiar seperti Agar-Agar (namanya sama dengan di Indonesia), Num Popeay (sejenis Jadah bulat dengan toping bubuk kacang), Banh Chanoeuk (Bubur Kacang Hijau), Keripik Taro, Amok (sejenis Pepes Ayam), tumis-tumisan, dll. 
Tetapi yang paling saya suka adalah Cambodian Fish Balls Noodles! Oh my Gosh, so delicious! I knew there are so many delicious Indonesian, Malaysian, and Thailand noodles but the noodles here had so different taste! 
The concept in Amazon Angkor is showing to the tourists about The Royal Apsara Ballet and a few folk dances original from Cambodia. The show is about 90 minutes and very worth it to enjoy. Personally, I loved the Apsara Ballet because of elegant, glamor, and slow movements. 
The Apsara Ballet reminds me with Ramayana Ballet from Yogyakarta. The movements have same “taste” with the Javanese traditional dances especially from Solo and Yogyakarta. But, for the costumes looks like Balinese (luxury and glamor). 
The music instruments are just some guys. The most interesting thing is the circle gongs (Kong Thom) because “Gongs” also very important instruments in Javanese – Balinese – Sundanese Gamelans. But the styles, shapes, and sizes are different with Kong Thom.  The other instruments are Xylophone (Roneat Ek) and 2 Khmer Drums (Samphor and Skor Thom). 
Saya tidak bisa menari tetapi saya suka pertunjukan tari. Saya tidak bisa memainkan alat musik tetapi saya suka  dengan pertunjukan musik. Saya puas sekali dengan aktivitas yang saya jalani untuk hari pertama di Siem Reap ini. Sangat puas meskipun lumayan banyak keluar uang , namun demi pengalaman? No Problem!

The next day was the second day in Siem Reap and I was ready for Angkor Wat Sunrise! My next Rmok driver at that time was Mr. Sofa Aladana, a Muslim. After chit chats a little bit, we went to the ticketing area and of course so many tourists! Famous destinations in the world are always having so many travellers. I am not complaining!. But, the building here had so many plastics outside! But again, I understood.  
Bayon Temple (www.trover.com)
Setelah tidak terlalu ramai mengantri (karena saya datang paling awal), kami langsung ke Angkor Wat. Sebelum masuk, petugas akan memeriksa karcis. Jadi, tidak boleh sampai hilang ya! Karcis seharga USD 37 ini untuk 1 hari dan bisa kita gunakan untuk mengeksplorasi Taman Arkeologi Angkor yang termasuk Angkor Thom (termasuk Bayon didalamnya), Ta Phrom, Ta Keo, Banteay Kdei, Sras Srang, serta candi-candi di Roluos. 

Kami sampai di depan Angkor Wat, tepatnya di area parkir. Saya dan ratusan turis lainnya (yang nanti menjadi seribuan) berjalan dalam gelap, melintasi jembatan untuk melewati kanal air yang melingkari candi ini. Lalu kami memasuki pelataran pertama Angkor Wat yang berupa dinding besar. Tiba-tiba ada para remaja berteriak. 
“Breakfast! Brreakfast!” begitu guys. Masih gelap begini nawarin sarapan? . Di dalam Angkor Wat boleh tho nawarin makanan ke para turis? Saya baru tahu. Saya tidak mendapatkan informasi perihal ini di banyak tulisan internet. 

“No, thank you!” saya tolak secara halus. Kemudian, saya memasuki pelataran kedua yang lebih luas. Bersama dengan traveler lain kami memilih stand by disisi kiri depan pelataran inti Angkor Wat yang ada kolam teratainya. Sisi kanan bagi saya tidak menarik “angle of photography”-nya. Lalu 1 orang dewasa beserta remaja dan sebagian anak-anak menghampiri para turis dan berteriak lagi dengan nada yang lucu. 

“Breakfast! Brrrreakkkfastt! Here sir! (ngasih menu) Order brrrreakfast in Angkor Whaaaattttt!!!!” Sontak semua turis ketawa. Banyak yang acuh tak acuh, tetapi ada juga yang merespon.
“Not now” kata si Bule.
“For later Sir! Over there! (sambil nunjukin warung makan disamping kolam!). My name is Spiderman! Please later mention Spiderman!!” marketing yang sangat unik dan ganjil. 

Saya mengamati remaja dan anak-anak yang lain melakukan hal serupa, hanya saja namanya lain-lain. Ada yang pakai nama Superman, Captain America, Batman, dan lain sebagainya. 
Borobudur, Java Island - Indonesia
Saya tidak tahu harus senang atau sedih melihat hal itu. Dulu, di Borobudur banyak juga para pedagang asongan yang jualan dekat candi tetapi semua sudah tertata dengan baik hampir lebih dari satu dekade. Borobudur sekarang lebih tertata dan anak kecil tidak boleh jualan, hanya orang dewasa saja. Yang sedikit mengganggu pemandangan adalah beberapa pengemis yang mangkal dipintu keluar dekat area parkir. Itu saja.

Saya rasa, perlu waktu bagi manajemen Angkor Wat untuk bisa melakukan hal yang sama. I don’t judge! I knew Cambodia has problem about poor people and so on. 
 Then, Oh My Gosh! So cloudy! Saya melihat banyak turis (mungkin) kecewa karena setelah hampir 1 jam menunggu, matahari tidak kunjung terbit. Puluhan wisatawan memutuskan memasuki pelataran utama yang dianggap paling suci. Lalu, menjadi ratusan dan kemudian hampir seribuan. Tetapi saya dan sebagian kecil traveler masih menunggu dan wowwww! 
Perlahan namun pasti, matahari muncul dan semburat cahayanya membuat langit Angkor Wat saat itu tersiram guratan kuning emas yang indah dan mendamaikan jiwa. Untaian siluet yang saling kait-mengait membuat pagi begitu dramatis. Kemudian, dengan refleksi cantik dari kolam teratai maka saya dapat mengabadikan banyak foto-foto mengagumkan. Cieee….sok puitis!!
The secret of Angkor Wat Sunrise is patient, momentum, season, and luck. At that time I was so lucky because believe me, nature is nature. Nature is unpredictable sometimes, same like Borobudur Sunrise in Java Island – Indonesia. I came to Angkor Wat was not for sunrise but for the temple! And, The Creator of Universe gave me surprise! So, this is my last article about “Traveling ke Angkor Wat”.
 Later, I will make a special article and brief description about the detailed of this temple. A magnificence temple was built by King Suryavarman II in the early of 12th Century and dedicated for God Visnu, one of Trimurti Gods in Hindu Mythology.  

Thank you so much for reading my stories and please share the link to your Social Medias, my good readers! Please comment if you want. Please share if you like and please wait my next article. Please follow my Instagram.  


Expense (Day 1 and Day 2) in Cambodia:
1. Transfer in by Rmok to Happy Guesthouse : USD 9 + USD 1 (Tip)
2. Happy Guesthouse (spring bed + shower + fan) : USD 8   
3. Brunch (Breakfast Lunch + Drink) : USD 4
4. Royal Apsara + Dinner + Rmok Service PP : USD 16
5. Angkor National Museum : USD 12
6. Beli Buku tentang Angkor Wat : USD 10
7. Mineral water (2 botol) : USD 2
8. Tissue Basah + Deodoran kecil Nivea : USD 2.50
9. Souvenir Magnet Exclusive (2) : USD 3
10. Beer Angkor 2 kaleng : USD 3.50
11. Rmok Service 1 Day + Tip+ cold mineral water : USD 30 + USD 6 (Tip)
12. Brunch in Angkor Wat area : USD 6
Total : USD 108

Tidak ada komentar:

Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...