Minggu, 27 Maret 2016

Malaysia-Thailand (A spiritual journey)



Perjalanan pertama saya keluar negeri adalah Brunei Darussalam bersama teman-teman saya (Halim Karnadi dan Agung), pada bulan november 2014. Setelah itu, saya merencanakan proyek kedua untuk menjelajahi 4 negara, yaitu dimulai dari Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam selama dua minggu di tahun 2015. 

Mengapa empat negara? Saya ada dua alasan. Pertama, belum pernah ada seorang guide atau pemandu wisata dari Indonesia, khususnya Yogyakarta yang melakukan perjalanan dengan rute yang demikian. Kedua, rute ini sangat menantang untuk ditakluk-kan dan sebenarnya memang ada caranya, ada ilmunya. Tetapi karena pertimbangan dana dan restu dari keluarga, niat ini saya urungkan. Kemudian, tahun 2015 adalah tahun menabung bagi saya dan Sofyan Yudianto, calon teman seperjalanan. Dana pun berhasil kami kumpulkan, namun sayangnya kami memiliki keterbatasan waktu. 

 (Bersama dengan teman-teman Malaysia, Peggy Ng dan Nicholas Teo)

Dari empat negara, akhirnya mengerucut menjadi tiga negara (Malaysia – Thailand – Kamboja), dan rute inilah yang kami pilih. Negara pertama yaitu Malaysia, dengan sukses dan mudah kami jalani, berkat dukungan dan support dari teman-teman Malaysia kami yang baik hati, apakah itu Chinese Malaysian, Indian Malaysian, ataupun Malay. Sayangnya, waktu kami sangatlah singkat di Malaysia,  dan ini pelajaran bagi kami. Seharusnya kami menjelajah Malaysia dengan tambahan satu atau dua hari lagi. “You need minimum five days five nights to explore Melaka, Kuala Lumpur, and Pulau Pinang. We love Malaysia. We got new friends here”.

Negara kedua yaitu Thailand, berhasil juga kami eksplorasi dengan gemilang. Oh iya, kami tidak ambil wisata pantai di Thailand, melainkan fokus pada wisata seni dan budaya, alam, serta arsitektur dan percandian. Mengingat, ini berkaitan erat dengan pekerjaan kami sebagai guide. Tetapi saat di Thailand, saya mendapatkan ujian.

Ujian dan sekaligus juga pencerahan bagi saya pribadi. Saya dan Sofyan adalah guide yang berbeda job description. Sofyan memiliki kekuatan pada petualangan, alam, dan volcanology, serta photography. Sedangkan saya terfokus pada seni dan budaya, percandian, sejarah Asia Tenggara, arsitektur, agama dan filosofi, juga alam dan petualangan. Ujian-nya ialah, saya memutuskan untuk tidak ke Kamboja, dan ingin lebih meng-eksplorasi kota Bangkok dan Ayutthaya, melenceng dari rencana awal. Latar belakang utamanya adalah dana menipis, karena saya membawa uang terbatas, dan banyak pengeluaran tak terduga di Thailand. “I don’t believe credit card, bank, or insurance but I believe in cash and gold”, itulah prinsip saya. Tetapi prinsip ini kurang tepat untuk traveling keluar negeri.

Sofyan tetap berangkat ke Kamboja, dengan tambahan pinjaman uang dari saya sebesar USD 50 dan THB 500. Selalu ada hikmah dari suatu peristiwa, “and I got something enlightenment about myself and understood about what kind of traveler I am”. Saya mendapatkan moment of solitude di Thailand. “I am a traveler who needs more times, more days for exploring the destinations in one country”. Saya tidak menyesal. Saya bahagia menyadari sisi lain dari diri saya, walaupun harus membayar mahal. “This is my traveling, this is my way, and everyone has different ways. I love Thailand. I got new friends here”.

Hikmah yang lain, saya memahami sistim transportasi di Thailand, khususnya Bangkok. Sehingga, apabila kedepan mendapatkan kesempatan untuk kembali, just lets go. Apalagi saya seorang guide, yang kemungkinan besar akan kembali bersama tamu-tamu saya. Proyek traveling berikutnya adalah Kamboja dan Vietnam, tetapi saya butuh waktu. Semoga dua tahun kedepan ada kejutan rizki tidak terduga untuk saya, dan semoga naskah buku yang akan saya kirimkan membuka pintu rizki yang lain. Doakan saya ya? Amen. “Take action to fulfill your destiny, even if at first you think you suck. You just need to believe you are special”.

Morals of the story:
·         Bring more cash for unexpected things in your journey (especially USD or Euro). About 50% from your assumption budget.
·         You must open account in the international banks or just good banks.
·         Find your moment of solitude. For me I don’t like rush around or rush through, but I prefer to explore more days, relax and enjoy in the destinations I like from one place or one country.
·         Always keep positive thinking about what happened in your journey, because everything happened in your traveling has wisdom for your life or wisdom in the future.
·         I believe there are no coincidences in this world.


Tentang “Traveling” dan “Lifestyle”…



Hai guys? Traveling saat ini di Indonesia menjadi lifestyle. “Tidak keren kalau tidak traveling”, begitu kata orang-orang. Bagi saya, apapun alasan anda melancong itu sah-sah saja. Untuk pamer ke teman-teman via media sosial? Ingin populer? Mencari ilmu dan pengalaman? Proyek buku baru? Rekreasi? Bisnis? Sekedar hobi? Selingkuh? Pencarian jati diri? Foto pre wedding? Untuk kepentingan acara gossip di TV? Mabuk-mabukan di negara orang? Untuk sex experience or married experience? Ingin pesta-pesta? Main judi di kasino? Sah!. Selama kalian punya uang, kalian bisa traveling kemana saja dengan motif apapun, dan dengan segala konsekuensi dan risikonya. “Everything has consequences”. Kemudian, timbullah suatu pertanyaan.

“Because your money is yours, so you can decide about what kind of traveling styles do you like?”. Backpacking? Flashpacking? Gap-packing? Luxurious traveling? Cruise?, up to you guys. You wanna be backpacker? Beer-packer? Sex-packer? Glam-packer?, up to you guys. But for me, I just wanna be a traveler, and then I am traveling”. Saya tidak mau yang mewah, tetapi juga tidak mau yang gembel-gembel banget seperti mayoritas para Bulre alias Bule Kere (Poor White People) di Khao San Road, melainkan menjadi pelancong yang kondisional dan proporsional saja, sesuai keperluan. It depends on your time, your will and your money when you are traveling. Saya ada pengalaman selama 5 hari di kota Bangkok, di bulan maret 2016 ini.
(Resting point in Chiang Rai Province, Thailand)

Hampir semua transportasi di Thailand, khususnya kota Bangkok sudah saya coba. Mulai dari kereta api, Tuk-Tuk, taksi motor, BTS SkyTrain, MRT, taksi, menyewa motor, minivan dan bis VIP, juga Chao Phraya Express Boat, serta bis kota kelas ekonomi. Bahkan, menikmati beberapa destinasi terkenal di kota Bangkok dengan jalan kaki sampai belasan kilometer pun, saya lakukan. Pertanyaan-nya kenapa? Karena saya pelancong, saya mau dan saya mampu melakukannya.  

Ya, sesederhana itu guys. Ada satu alasan lagi sih, karena saya ini seorang guide alias pemandu wisata atau pramuwisata. Saya harus paham sistim transportasi di Bangkok, agar ketika kedepan membawa klien dari Indonesia ke Bangkok, maka saya tau apa yang harus saya lakukan.

Kelas ekonomi menengah keatas di Indonesia, sudah beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan, sehingga banyak orang Indonesia, khususnya yang tinggal di kota-kota besar yang ingin traveling. Kemudian, muncullah fenomena menjamurnya buku-buku panduan perjalanan dengan ciri khasnya masing-masing. Sebagian penulis adalah living legends, dan sebagian yang lain merupakan pendatang baru.

Ada buku yang ditulis oleh orang Indonesia yang lama tinggal disuatu negara, ada buku gimana caranya bisa ke beberapa destinasi atau negara dengan bujet sekian, ada yang terang-terangan menuliskan “backpacking” pada judul bukunya, ada buku yang fokus mengulas satu negara, ada buku yang mengedepankan cerita berdasarkan pengalaman pribadi, ada buku yang mengulas pengalaman traveling bersama pasangan (so sweet), ada buku traveling yang mengharu biru dan drama, ada yang bergaya jurnalistik dan terkesan agak serius, dan lain-lain. Saya bisa menuliskan hal ini, karena saya memiliki buku-buku tersebut. Bagi saya, itu sah-sah saja. Mereka berkarya, dan harus terus didukung.

Salah satu penulis buku traveling tersebut ada yang sudah go international dan bukunya telah menjadi best seller, dan sebagai orang Indonesia saya bangga, kita semua bangga. Dimasa negara kita tercinta yang sedang mengalami berbagai ujian ini, traveling merupakan salah satu cara juga bagi kita untuk menaikkan harkat, derajad, dan martabat sebagai warga negara Indonesia didalam persaingan global. Traveling juga dapat dijadikan ajang promosi secara langsung kepada orang asing atau lokal yang kita temui. Traveling memang menjadi gaya hidup, dan saya bangga dengan lifestyle ini. 

 (Borobudur Sunrise. This picture is taken by Ang Gaik Hoon, my friend from Malaysia)

Di Indonesia sendiri ada banyak destinasi indah yang menunggu untuk dieksplorasi, dan dinikmati kecantikannya. Pemerintah Indonesia juga gencar melakukan promosi hingga keluar negeri, atau via internet seperti situs YouTube. “Please check it out on YouTube, Wonderful Indonesia North Sumatera, West Sumatera, Jakarta, West Java, Yogyakarta, East Java, Bali, Lombok, Flores, Tana Toraja, Komodo & Labuan Bajo, and West Papua”.  

Bagi saya traveling itu nikmat, dan memang tidak harus keluar negeri. Sekali lagi, itu semua tergantung kemauan, kemampuan, dan kondisi setiap traveler yang berbeda-beda. Jadi, ayo traveling kemanapun kalian suka, dengan gaya apapun yang kalian mau. Nikmati hidupmu, karena hidup ini hanya sebentar. Karena, “life is traveling”.

Jumat, 25 Maret 2016

About Indonesian Rupiah (IDR)...



Halo Guys? Dua minggu lebih tidak menerbitkan tulisan di blog ini, dan saya rindu karenanya. Entah mengapa ide yang muncul dari dalam pikiran saya adalah soal mata uang kita tercinta, Rupiah. Saya cinta Indonesia, karena saya lahir di negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan tentu saja saya cinta rupiah sebagai mata uang yang sah di Indonesia. Dalam dunia valuta asing alias valas (foreign exchange), nama mata uang rupiah disingkat menjadi IDR (Indonesian Rupiah), dan bagi kalangan para traveler dari mancanegara, mata uang kita ini cukup terkenal akan nominalnya yang mayoritas membuat mereka bingung, serta membuat mereka menjadi “millionaire” di Indonesia.

 Kata mereka “too many zero”. Saya pun merespon, “too many zero sir/madam? You have to search Google and you will know if Vietnam Dong is the worst one in Southeast Asia. You will more confuse, but in Vietnam you can use USD”.

Sebagai seorang pemandu wisata, pada hari pertama bertemu klien di bandara ada beberapa ritual wajib yang biasa saya lakukan seperti menyapa dengan senyuman dan memperkenalkan diri, menanyakan kepada tamu apakah ingin ke toilet sebelum memulai tur, menjelaskan secara singkat tentang itinerary, dan apakah sudah mempunyai rupiah sebagai alat pembayaran resmi di Indonesia.

Sejak tanggal 1 Juli 2014, pemerintah Indonesia mewajibkan menggunakan mata uang rupiah bagi semua transaksi yang dilakukan di Indonesia. Hal ini berlaku untuk semua insan pariwisata juga tentunya, baik itu perhotelan, travel agen, restoran, dan pembelian cinderamata alias souvenir. Terkadang penggunaan mata uang asing untuk membeli souvenir atau membayar makanan di restoran masih diperbolehkan tetapi rate nya tidaklah baik, itulah mengapa saya selalu menyarankan klien saya untuk harus memiliki rupiah.

“Indonesia right now is not like Cambodia or Vietnam which you can use USD or Euro for your transactions in traveling sir/madam” kata saya. Dan selalu mereka respon dengan pertanyaan “why?”. “Because this is about pride,  and one of the Indonesian government policies against foreign exchange, especially USD”. Ketika sudah memiliki rupiah, maka saya menjelaskan dan memberi contoh kasus bagaimana mereka bisa menggunakannya secara bijak, dengan nada setengah bercanda.

“ You can use IDR 100, IDR 200, and IDR 500 for buying small candy. IDR 1000 and IDR 2000 are for toilet. IDR 5000 is for motor parking fee and IDR 10.000 for car parking fee in Prambanan and Borobudur temples. IDR 20.000 is for buying a good portion of Mie Ayam (Indonesian Chicken Noodles) or Bakso (Indonesian Meat Balls Soup), IDR 50.000 is for a good portion of Mie Ayam in Madam Tan Restaurant Yogyakarta, and IDR 100.000 for two portions, of course”. Dan, klien saya pun tersenyum atau tertawa. Penjelasan ini menurut saya penting, sehingga klien paham dan jangan sampai memberi tipping dengan uang IDR 2000. “That is not good”. 

Pengalaman terbaru, saat saya traveling ke Thailand sejak tanggal 9 – 21 maret 2016. Sebenarnya saya membawa uang cukup dalam bentuk Thailand Baht (THB) dari Indonesia, tetapi karena sesuatu yang “unexpected” dalam traveling,  membuat saya harus memiliki Thailand Baht lagi. Sangat disayangkan apabila menukarkan USD yang saya miliki, maka iseng-iseng saya menukarkan IDR 150.000 ke money changer terdekat dari apartemen pacarnya teman saya, di daerah On Nut, Bangkok. Dan, ditolak!. “I am so sad”. Kata petugasnya, “Singapore Dollar okay, US Dollar okay, Euro okay, but Indonesian Rupiah no”. Indonesian Rupiah (IDR) di Thailand mungkin dibeberapa tempat masih laku, seperti di pasar tradisional tapi percayalah jangan terlalu berharap banyak.
(This picture is taken by Sofyan Yudianto, my friend from Genteng, Banyuwangi, East Java)

Lain di Thailand, lain pula di Malaysia. Di Malaysia, khususnya di Pulau Pinang yang terkenal akan situs heritage seperti Georgetown itu, Indonesian Rupiah (IDR) disejajarkan dengan USD pada papan nama alias nameplate di salah satu authorized money changer disana. Saya dan rekan seperjalanan saya, Sofyan melihat hal itu heran. Bisa jadi ini adalah marketing strategy, agar para pekerja dari Indonesia di Pulau Pinang mau menukarkan mata uang rupiah disana. Ini unik, dan apapun alasannya, mungkin hanya di Malaysia ada money changer yang mensejajarkan IDR dengan USD,  Ya, bagaimanapun Malaysia itu adalah negara satu rumpun, satu rantau.

Kalau saya pribadi lebih menyukai jika nominal IDR dipotong, mungkin maksimal menjadi IDR 1000 seperti Thailand Baht (THB) dan Philippine Peso (PHP) atau IDR 100 seperti Malaysian Ringgit (MYR). “I hope, in the future Indonesian government will  cut the zero”.

Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...