Tampilkan postingan dengan label Trinity "The Naked Traveler". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trinity "The Naked Traveler". Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2019

TRAVELING BARENG TRINITY TRAVELER (1)
Bersama Kak Idola di Goa Jomblang Yogyakarta

Ini adalah memori paling berkesan yang saya miliki di tahun 2019. Orang biasa, guide biasa seperti saya, mendapatkan kehormatan luar biasa untuk memandu tamu spesial dari Jakarta. Ini adalah kisah kami bertiga. Saya, Trinity Traveler https://naked-traveler.com/ , dan Zara Meliala (Personal Assistant Trinity) . Saat itu, hari Rabu tanggal 26 Juni 2019 di Yogyakarta, rasanya bagaikan petir di siang bolong! Kaget Cuy!

Tak ada angin maupun hujan, tiba-tiba ada DM (Direct Message) di akun Instagram saya. Wow! Ternyata Kak Idola, Trinity “The Naked Traveler” alias Trinity Traveler yang kondang itu, guys. Kak Trin mau traveling ke Yogyakarta dan saya harus menjadi pemandu wisatanya! What? Apakah ini mimpi? Dari sekian banyaknya network yang Kak Trin miliki, kenapa saya yang dipilih? 

Mungkin, inilah yang disebut dengan takdir. Saya juga percaya dengan Hukum Karma dan Law of AttractionFor me, there is no coincidence in this world. It is written. Kalau sudah rejekinya atau jodohnya, ya tidak akan lari kemana-mana. Betul gak guys?

Sebelumnya, saya pernah berpapasan dengan Trinity di Candi Prambanan beberapa tahun yang lalu dan kemudian mengirimkan pesan via Facebook Messenger, agar Kak Idola menjelajahi Jogja dan aku menjadi guide-nya. Ingin rasanya jalan-jalan bersama Trinity dan menunjukkan sisi lain dari destinasi-destinasi di Kota Kenangan ini. Sisi lain Jogja, yang juga memiliki beberapa wisata adrenalin!
Buku terakhir seri "The Naked Traveler"

Dari buku seri Trinity “The Naked Traveler” yang selalu laris manis bak kacang goreng, saya sering memperhatikan kalau Kak Idola sering menuliskan pernyataan, bahwa ia adalah seorang ‘adrenaline junkie’. Menurut saya, yang paling adrenalin itu petualangan Trinity menyelam di Afrika Selatan bersama para hiu! Damn! Itu sangat ekstrim dan adrenalin! Saya takut sama hiu soalnya.

Kemudian sekitar dua tahun yang lalu, saya menghapus akun Facebook karena sudah tidak nyaman dengan aplikasi karya Mas Mark Zuckerberg itu. Lalu, berpindahlah saya menggunakan aplikasi Instagram dan memang tepatlah keputusan ini. Rejeki yang saya dapatkan lebih baik secara kuantitas maupun kualitas.

Setelah chatting via Instagram, kami berpindah ke WhatsApp. Saya mengirimkan contoh itinerary, dan setelah melalui proses pertimbangan yang agak lama, akhirnya fixed itinerary disetujui oleh Kak Trinity. Wisata ke Jogja kali ini sangat komprehensif dengan memadukan atraksi alam, budaya, percandian, petualangan dan kuliner, serta wisata adrenalin. Keren! So Trinity style!
Saat di Goa Pindul. Tunggu cerita detilnya ya!

Trip ini adalah proyek traveling yang nantinya akan menjadi ‘travel journalism’ untuk suatu majalah Asia, dan Kak Trin akan mempromosikan 15 hal yang bisa dilakukan selama jalan-jalan di Yogyakarta dengan kategori ‘5 to see, 5 to do, 5 to eat’. Kenapa saya yang dipilih? Tentu saja karena berbagai pertimbangan seperti saya seorang guide, pembaca buku-buku Trinity, dan karena takdir juga. Wekekeke…

Kak Trinity pernah bilang bahwa jika ada suatu proyek traveling di Indonesia, sebisa mungkinditemani dengan orang-orang yang membaca buku-bukunya. Biar satu frekuensi gitu lho guys. Kalau tidak, bisa bête. Penasaran dengan destinasi-destinasi yang saya tawarkan ke Kak Trin? Semoga bisa menjadi gambaran juga bagi para pembaca #yojalanjalanda . Aish! Promosi nih.
Ini baru traveling!
Borobudur Sunrise, Candi Prambanan, Kraton Yogyakarta, Tamansari, Masjid Gede Kauman, Rumah Doa Bukit Rhema aka Gereja Ayam, Goa Jomblang, Pantai Timang, Goa Pindul, Museum Ullen Sentalu, Gunung Merapi Volcano Tour, Flying Fox Gedangsari, dan Roro Jonggrang Prambanan Ballet adalah fixed destination yang kami pilih. Iya dong! For me, this is not working. Bagi saya, ini adalah traveling bersama Kak Idola.

Walaupun kami saling berkomunikasi sejak bulan Juni, namun sejatinya trip ini masih lama. Kak Idola ingin ke Jogja di bulan Agustus, yang notabene merupakan peak season bagi industri pariwisata Indonesia.
Jadwal Kak Trinity bentrok dengan jadwal yang sudah saya miliki dari suatu Travel Agent yang selama ini banyak memberikan klien dari Eropa dan Amerika kepada saya. It was not easy situation at that time, coz I am a freelance guide. (Bersambung)

Follow US

Minggu, 24 Desember 2017

Kado Natal untuk Trinity "The Naked Traveler"



Musim ramainya turis asing di Jogjakarta tu musiman. Paling ramai itu mulai bulan Juni – November, dan setelahnya mulai menurun. Dimusim high-peak tersebut bisa dipastikan para guide di Jogja (Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Korea, Spanyol) super sibuk! Saking padatnya terkadang hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Ampun pokoknya!  Gak kalah sibuknya dengan para artis sinetron striping. Serius lho! Nah, memasuki bulan Desember bisa bernafas lega, seleganya ngemut permen menthol!

Jadi, itulah kenapa sejak tulisan terakhir dibulan Juni, saya baru bisa nulis lagi. Karena, bulan-bulan kemarin otak saya buntu! Melayani turis mancanegara itu perlu perhatian khusus dan enerji ekstra,  sehingga waktu malam hari hanya bisa digunakan untuk istirahat sebentar. Alhasil, blog saya yang ala-kadarnya ini ( www.yojalan-jalandab.blogspot.com ) terlantar! Duh, memang susah banget ya konsisten itu. Maksud hati kalau bisa 1 bulan minimal 1 tulisan tetapi apa daya. Saya tahun ini gagal konsisten!

Nah, yang saya sebel sama diri saya sendiri…kenapa sih inspirasi dan hasrat menulis selalu muncul ditengah malam! Seperti sekarang ini waktu menunjukkan jam 2 dini hari! Sangat mengganggu jam biologis saya. Begadang-lah jadinya. Padahal ngantuk tetapi tidak bisa tidur. Dan, inspirasi menulis saya kali ini adalah Trinity! Why? I don’t know! Sekelebat datang begitu saja dipikiran saya dan tidak bisa hilang! Sehingga satu-satunya cara harus “dilampiaskan” dalam bentuk tulisan. 

Jadi begini poro sedulur, guys, bro and sis! 2 hari yang lalu saya baru memborong buku “Trinity the Naked Traveler: Across the Indonesian Archipelago” di official building-nya PT.Bentang Pustaka di Plemburan, Sleman, Yogyakarta. Lah saya ini tinggal di Sleman, ya tentu saja saya sering lewat dan beli buku disini. 

Saya sudah cari di Toko Buku Toga Mas, Gramedia tetapi sudah habis! Saya tunggu-tunggu kok edisi bahasa Inggris-nya gak diterbitin ulang ya? Padahal saya “demen” banget! Mana saya nunggunya sejak tahun kemarin lagi.

 Andrea Holetzki, salah satu tamu spesial yang saya beri hadiah buku Trinity

Dapat kabar dari “yayang” kalau masih ada beberapa buku Trinity yang edisi bahasa inggris. “Mau beli gak?” pesannya via Whatsapp. “Ada berapa? Ambil semuanya!”. Bukan maksud pamer yaa…tapi saya sangat memerlukan buku ini untuk kado bagi para klien “spesial” yang saya layani. Sebagai professional guide yang berlisensi resmi , saya kadang-kadang melayani tamu-tamu VIP dan VVIP seperti Owner Travel Agent dari Eropa, USA, dll. Mereka sangat apresiasi sekali apabila guide “pengertian”. Apalagi ditambahi dengan niat yang tulus! 

Sudah beberapa kali saya memberi kado buku Trinity untuk para tamu dan semuanya suka! Sangat jarang lho penulis Indonesia bisa “Go International” dan memang karya-karya Trinity sangat layak diapresiasi. Trinity terus menginspirasi banyak orang untuk melakukan perjalanan. Lalu , saya teringat akan film Trinity The Nekad Traveler yang dirilis pada tanggal 17 Maret 2017 lalu. Pemilihan tanggalnya cantik tetapi bagaimana dengan perolehan penontonnya?

Poster film Trinity The Nekad Traveler

Saya sedih,  The Nekad Traveler tidak cukup berhasil. Sebenarnya film ini termasuk bagus dan saya enjoy kok saat menontonnya. Bukan film “picisan”. Pemilihan setting-nya maknyuss! (meminjam istilahnya Alm.Pak Bondan Winarno), di Indonesia - Filipina – Maldives - Maladewa! Kurang keren apa coba? Pemilihan bintangnya cantik-cantik dan ganteng (minus Babe Cabita). Wajah-wajah yang “menjual”. 

Saya yakin bujetnya besar walaupun saya “utek-utek” Mbah Google tetap tidak menemukan berapa dana yang digelontorkan untuk membuat film ini. Promosi juga cukup gencar! Bahkan di www.naked-traveler.com sering disinggung tentang proyek filmnya. Jadi, apa yang salah? Sehingga perolehan penontonnya sangat-sangat jauh dari harapan? Jelas, film ini dibuat dengan “niat”! Tetapi memang, harus saya akui bahwa untuk “plot holes” cukup banyak bertebaran dan beberapa adegan “agak dipaksakan”. Film ini hanya ditonton oleh 92.183 orang saja (www.wikipedia.com)! What the?

Kalau saya jadi Trinity tentu saya juga cukup kecewa dengan hasilnya. Tetapi coba cek Instagramnya Trinity! Dia tetap terus jalan-jalan. Hebat! Buku-bukunya tetap bertengger di Gramedia (saya sering ke Gramedia jadi saya tau). 

Melihat foto-foto traveling-nya di Instagram saya pun mupeng!  Tahun lalu saya ke Malaysia dan Thailand, sedangkan tahun ini yang pure jalan-jalan adalah ke Bali dengan keluarga. Tahun depan saya bimbang antara Kamboja atau Taiwan. Semakin mupeng, karena Trinity barusan jalan-jalan ke Taiwan! Aarrgghhh!!! 

“So, Trinity wherever you are please keeps traveling! As your fan (not fanatic and lunatic by the way…so don’t worry) I just pray for your health and success, and Merry Christmas for you in 2017! Merry Christmas for all Christian in the world! Let’s give our best in goodness for human kind. Spreading the compassion for everyone and hatred for none.”   


Jumat, 19 Februari 2016

Tanggapan Terhadap Tulisan Trinity “The Naked Traveler” (bagian 2 - selesai)



Masih soal tanggapan saya terhadap tulisan Trinity “The Naked Traveler”, yang teman-teman bisa mengecek langsung di link  ini http://naked-traveler.com/2016/02/10/mengintip-program-pariwisata-negara-tetangga/   . Pada tulisan saya sebelumnya, telah saya  jabarkan suatu tanggapan terhadap 4 negara besar penarik wisatawan asing di kawasan Asia Tenggara, yang mana Indonesia adalah juara keempat dengan perolehan 10.47 juta wisatawan mancanegara (Sumber: Badan Pusat Statistik).


Mungkin Pak Arif Yahya selaku Menteri Pariwisata, baru mendapatkan data sementara dari BPS (Badan Pusat Statistik), ketika beliau bilang bahwa ada 10 juta wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia sepanjang tahun 2015, saat press conference pada tanggal 22 Januari di event  ATF (ASEAN Tourism Fair) 2016, Manila, Filipina. Teman-teman boleh download video di Youtube tentang ATF dan sudah beredar banyak  video menarik yang wajib dikoleksi, khususnya bagi kalian yang suka jalan-jalan. Jadi, kalau ketemu orang lokal di suatu negara, kita bisa menjelaskan kekuatan pariwisata kita dan posisi negara kita di kawasan ASEAN.  Menjadi smart traveler itu mudah kok, asalkan rajin-rajin mencari informasi saja. Thank you very much Youtube!.

5. Vietnam
Vietnam masih harus belajar dari Indonesia soal pariwisata. Jumlah wisatawan asing ke negara ini adalah7,9 juta/tahun dengan mayoritas turis dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. Vietnam itu bagi saya hanya 2 saja destinasi pentingnya yaitu Halong Bay dan Danang. Adapun Ho Chi Min City paling hanya 1-2 hari saja turis asing menghabiskan waktunya disini (mayoritas hanya 1 hari). Mau ngapain lama-lama? Mau lihat wisata macet? Mendingan Jakarta!. Vietnam masih jauh kalau mau mengalahkan Indonesia dalam pariwisata. Ini saya ada cerita menarik guys.

Saya selalu curious alias kepo kalau servis tamu asing, saya pasti tanya sudah ke negara mana saja, dan memang dari lebih 100 tamu yang saya layani sejak tahun 2013 rata-rata sudah pernah ke Vietnam. Alasan utamanya adalah murah – meriah, walaupun mayoritas tidak suka dengan sistem transaksi jual – belinya. “It is very ridiculous, because you buy something with USD and then you will get Vietnam Dong?” kurang lebih begitulah komentar mereka. Yah, Vietnam Dong memang paling hancur nominalnya di kawasan ASEAN. Bahkan, hanya satu atau dua Money Changer saja yang menjual Vietnam Dong di Yogyakarta,  itupun sedikit sekali karena hampir tidak ada peminat.

Atraksi tambahan yang menarik (kata bule) adalah mencoba Kopi Vietnam. What? Vietnam Coffee?. Itu para bule, harus mencoba Indonesian Coffee (Mandailing Coffee, Aceh Coffee, Gayo Coffee, Lampung Coffee, Lahat Coffee, Java Coffee, Bali Coffee, Flores Coffee, Toraja Coffee, dan West Papua Coffee). Memang Vietnam saat ini sedang terkenal akan kopinya, lalu muncullah brand Kopi Vietnam yang bagi saya lebih enak dan nendang Java Coffee, Mandailing Coffee, Bali Coffee atau Toraja Coffee. Ada kisah soal kopi Vietnam ini. Based on true story (cielah).

Pada tanggal 19 Maret – 2 April 2015, saya membawa tamu spesial dari Jerman berjumlah 5 orang. Mereka tergila-gila dengan alam Jawa dan hampir setiap tahunnya ke Indonesia apakah itu Jawa, Bali, Toraja, Komodo, dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, 2 minggu saya bersama mereka dengan destinasi Jawa Timur (Batu – Malang, Jember, Tanjung Papuma, Pulau Sempu, Bondowoso, Kawah Ijen, dan Banyuwangi), lalu terakhir saya drop ke Bali. Salah seorang tamu saya, ternyata punya andil mempopulerkan Kopi Vietnam di Jerman. Saat masih muda, dia ke Vietnam dan meneliti bagaimana agar Vietnam dapat meningkatkan produksi kopinya.

Saat kami melewati perkebunan kopi arabika di Kabupaten Bondowoso - Jawa Timur, dikarenakan hujan deras dan angin kencang, berhentilah kami disuatu kedai sederhana. Kami semua memesan kopi arabika yang orang sana menyebutnya Kopi Ireng alias Black Coffee

“Oh, lekker (enak)!” kata tamu saya yang peneliti itu. Padahal, yang dia minum baru yang biasa (kualitas kedai), bukan Java Arabica Coffee yang premium!. Nah, di momen seperti inilah saya menjelaskan kepada tamu bahwa Java Coffee sudah terkenal sejak ratusan tahun lalu, sejak jaman kolonial Belanda, jauh sebelum Vietnam menanam kopi tentunya. Tapi soal produksi sekarang ini, memang Indonesia kalah sama Vietnam namun bila soal kualitas, Indonesia is the best!. Teman yang satunya menimpali, sebut saja inisialnya G. 

“You know Yoga, all of this because of him!”
“I am so sorry Yoga” respon si peneliti kopi. 

Saya yang mendengar hanya tersenyum dan ketawa saja. Si peneliti ini bilang memang rasa Kopi Jawa ini berbeda. Kopi Vietnam itu mild (saya sering mendengar alasan seperti ini). Kopi itu seperti anggur untuk wine, apabila ditanam ditanah yang berbeda, maka rasanya pun berbeda. Apalagi di Tanah Jawa ini yang banyak sekali gunung berapi, menyebabkan kualitas kopinya unik karena tanahnya sangatlah subur. Kopi pun jika diolah dengan teknik yang berbeda, menghasilkan cita rasa yang berbeda pula. Coffee is not as simple as you think for the philosophy, and for the taste Indonesian Coffee is number one. Pada dialog terakhir kami, saya berkata.
“You should try Bali Coffee” sambil tersenyum puas.

6. Filipina
Sama sebagaimana halnya Vietnam, Filipina harus belajar kepada Indonesia soal pariwisata. Turis asing ke Filipina hanya sebanyak 5 juta/tahun yang kebanyakan berasal dari Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang. Orang- orang Korea dan Jepang juga sudah lama menjadikan Bali sebagai destinasi favorit, dan Yogyakarta serta Jawa Timur (Bromo) sedang naik daun untuk destinasi kedua mereka. Kalau Amerika Serikat hanya berminat dengan Bali dan Yogyakarta saja. This is homework for Indonesian government.
Kelebihan Filipina adalah warganya yang mayoritas bisa berbahasa Inggris dengan baik. Pariwisata Filipina memang menarik dan berkembang, mengingat negara ini juga kepulauan seperti Indonesia. Pemerintah Filipina tau persis kelebihan mereka, maka tidaklah heran jika scuba diving tourism sedang digalakkan.

Ada satu fakta menarik, pada tahun 2015 tetapi saya lupa bulan apa, namun saya ingat kontennya dari koran yang saya baca bahwa pemerintah Filipina mengirim tim pariwisata mereka ke Pulau Bali untuk belajar bagaimana memanajemen dan mempromosikan pariwisata, mengingat Bali dianggap sukses oleh pemerintah Filipina dalam mengembangkan berbagai macam pariwisata.

 Apalagi Bali, pada tanggal 24 – 27 November 2013 juga sukses menggelar World Culture Forum (check on Youtube please). Bali memang tempat belajar yang tepat untuk Filipina, lha wong Yogyakarta juga belajar beberapa hal dari Bali. The last but not the least, Bali is fun destination. Jadi, memang cocok dengan slogan pariwisata Filipina, “It’s more fun in the Philippines”. So Philippines, Be a good student.

7. Kamboja, Myanmar, Laos
Turis asing yang datang ke tiga negara ini antara 3 – 4 juta/tahun. Kamboja dengan slogan pariwisata “Kingdom of Wonder” ini kalau tidak ada  Angkor Wat dan Bayon serta kompleks candi yang lain, tidak akan dikunjungi turis. Sistem transaksi jual –beli nya sama-sama menjengkelkan seperti di Vietnam (bikin tekor!), tetapi saya respect dengan negara ini, karena masih ada hubungan antara Jayawarman II (salah satu Raja Khmer) dengan Dinasti Syailendra yang membangun Borobudur. Penasaran kan?. Bagi guide Yogyakarta, mengunjungi Angkor Wat adalah suatu keharusan demi professionalism. Intinya Jawa dan Kamboja itu memiliki hubungan yang cukup erat dan panjang (bagi anak sejarah pasti tau).

Borobudur (my collection)

Saya pernah membawa tamu VIP dari Kamboja pada tahun 2015, seorang Boss Travel Agent berkebangsaan Perancis. Apa komentar dia tentang Borobudur dan Prambanan? “So well preserved and amazing” itulah katanya, dan saya masih ingat betul akan hal ini. Dia bilang Angkor Wat sekarang sedang mengalami persoalan serius apakah itu kondisi batu, pembatasan turis bagi yang ingin naik keatas, dan lain-lain. 
 
Sangat-sangat berbeda jauh dengan kondisi Prambanan dan Borobudur yang masih bagus dan terawat. Saya jelaskan bahwa baik Prambanan dan Borobudur menggunakan batu andesit alias lava stone yang sangat kuat, kokoh, keras, serta tahan lama (he he). Walaupun Borobudur dan Prambanan lebih tua daripada Angkor Wat, tetapi kondisi candi dan kualitas batu, juga perhatian dan perawatan dari pemerintah, serta kerumitan dan detil ornament carving technique 3D-nya, lebih unggul disini. 

Soal Myanmar dengan slogan “Let the Journey Begin”, yang menarik adalah Bagan dan Pagoda Shwedagon. Sudah itu saja. Sebenarnya ada 3 jalur darat untuk masuk ke negara ini dari Thailand, tetapi turis dilarang masuk lewat jalur darat, melainkan harus naik pesawat guys, atau cruise (duit darimana coba). Untunglah, pemilihan umum tahun 2015 Aung San Su Kyi menang. Semoga, Myanmar lebih open terhadap turis kedepannya. 

Laos? “Simply Beautiful” merupakan slogan pariwisatanya. Negara ini jauh dari kata maju guys. Wisata andalannya hanya Vientine dan Luang Phrabang. Keindahan lanskap dan alamnya merupakan jualan utama dari Laos. Ketiga negara ini masih berkembang akan pariwisatanya dan memiliki potensi masing-masing. Dan of course, harus banyak belajar dari negara tetangga terdekat mereka, Thailand.

10. Brunei
Saya sudah ke Brunei tahun 2014 yang lalu, dan 6 hari 5 malam di negara ini bersama teman-teman. Pariwisata Brunei dengan slogan barunya “a Kingdom of Unexpected Treasures”, bukanlah jualan utama Brunei, melainkan bisnis perminyakan itulah andalannya. Pariwisata itu penting tapi gak penting, hanya pelengkap saja. Akan tetapi bukan berarti negara ini tidak menarik untuk dikunjungi. Wisata Brunei adalah wisata religi, alam, dan budaya. Wisata minat khusus bagi teman-teman yang beragama Islam ataupun tidak. 

Yang jelas kalau ke Brunei, jangan hanya ke Kampung Kianggeh karena warga asli Brunei bukan disana tempat berkumpul-nya. Kampung Kianggeh memang cocok untuk wisata kuliner yang murah , jadi tidak heran kalau tempat ini favorit bagi para imigran apakah itu dari Indonesia, Filipina, India, ataupun negara-negara lain. 

Memang benar, saat Hari Raya, Sultan Hassanal Bolkiah membuka open house sehingga siapa saja bisa bersalaman dengan orang yang paling berkuasa di negara ini. Di Yogyakarta pun sama, Sultan Hamengkubuwono X juga menggelar open house untuk masyarakat. Jadi, tidaklah heran jika negara ini paling terakhir untuk prestasi pariwisatanya. Untuk merasakan kehangatan warga asli Brunei memang enaknya punya teman Brunei, kalian akan merasakan keramahan khas orang Asia Tenggara. 
 
ASEAN for ASEAN
Indonesia mendapatkan tema promosi spa and wellness untuk ASEAN, Singapura untuk cruise tourism, dan Malaysia untuk adventure travel.  Saya tidak protes Indonesia mendapatkan tema spa and wellness karena memang spa di Bali adalah salah satu yang terbaik di dunia (atau yang terbaik), tetapi kenapa Malaysia dapat adventure travel? Saya tidak habis pikir. Indonesia itu surganya untuk adventure travel, dan sekedar informasi teman-teman.
 
Kawah Ijen,Bondowoso,East Java, Indonesia (taken by Raphael Leiteritz from Switzerland)

 Tim Volcano Discovery yang tersohor di dunia untuk wisata alam, petualangan, dan gunung api, salah satu orang pentingnya adalah dari Indonesia!, dan markasnya di Indonesia adalah di Yogyakarta. Semoga pada kesempatan berikutnya Indonesia mendapatkan tema spa and wellness serta adventure travel. It is homework for Indonesian government.
 
Semoga pada kesempatan ATF (ASEAN Tourism Forum) berikutnya, Menteri Pariwisata Indonesia (siapapun itu) memaparkan program-program andalan pariwisata kita. Sebagai orang lapangan, saya dan teman-teman di Yogyakarta hanya berharap yang terbaik untuk pariwisata kita, bekerja sebaik mungkin dan turut membantu mempromosikan pariwisata Indonesia.

Catatan: Mbak Trinity “The Naked Traveler” menuliskan, “Menurut saya sih hitungan jumlah turis asing yang masuk itu masih diragukan. Ada yang menghitung jumlah penumpang pesawat dari luar negeri, ada yang menghitung dari jumlah cap masuk WNA di imigrasi, ada yang berdasarkan jumlah WNA yang menginap di hotel minimal semalam, ada yang membedakan antara WNA yang datang sebagai turis atau bisnis”. Saya setuju sekali. Angka-angka yang dipaparkan oleh setiap negara pada ATF 2016 di Manila, hanya salah satu referensi kita untuk melihat gambaran pariwisata di setiap negara. 


Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...