Tampilkan postingan dengan label Thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thailand. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2018

The Grand Palace of Thailand (Brief Description)


 I am so interested with any kind of palaces on this planet. In Yogyakarta (my city) has a Sultan Palace aka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat and the function is the same like in Istana Nurul Iman, the palace for Sultan of Brunei. Because I live in the city of heritages, for me visiting The Grand Palace in Bangkok is a must. It is my top priority when traveling to Thailand. And, this is my story around 2 years ago…
 Bangkok was so hot and humid at that time! (walking to the main area)
I remembered at 14th March, Sofyan Yudianto (my traveling partner) and I went to The Grand Palace with Yan Zein (our Filipino friend who works in Bangkok) by taxy. She spoke English, Tagalog, Cebuano, a little bit Spanish, and Thai. Wow, that was something you know. She was really helpful and we were very lucky! 
 The main area of the grand palace
The Grand Palace adalah komplek istana Raja Thailand yang dibangun oleh Raja Rama I pada tahun 1782 (kalau Kraton Yogyakarta tahun 1755) dengan konsep “Mandala” seperti Candi Borobudur yang memiliki 4 pintu atau gerbang,  dan dikelilingi tembok seperti Candi Prambanan di Yogyakarta atau Komplek Angkor Wat di Kamboja. Panjang temboknya 1900 meter dan luas Istana ini adalah 218.000 meter persegi!
 Buddhist monks walking to the main entrance
Istana yang besar sekali! Sangat besar dan luas! “bonito y espektakular”! Mengagumkan! Nah, mulai lebay deh. But seriously, it was super cool palace! Istana ini tidak hanya merupakan tempat tinggal Raja – Raja Thailand terdahulu tetapi juga merupakan pusat administrasi dan juga biara bagi keluarga kerajaan. Intinya, istana yang lengkap! “The Grand Palace” dibagi menjadi 9 area yang total banguanan-nya ada 35! Banyak sekali yaa…
And, allow me to describe generally about the whole parts of the palace for you, my readers! 

1. The Royal Monastery of the Emerald Buddha
Bangunan ini mencolok karena atapnya yang berwarna biru tua berpadu dengan warna oranye – keemasan dan dekat dengan “ticketing area”, membuat biara ini menjadi tujuan pertama bagi turis (tetapi kebanyakan turis tidak tau). Karena banyak sekali turis dari Tiongkok, saya hanya menikmati dari luar saja. Sesuai namanya, didalam bangunan ada Arca Buddha yang dibuat dari bongkahan besar zamrud hijau alias “green emerald” yang indah.

Buddha Rupang ini bergaya Northern Thai (patung Buddha itu memiliki banyak “style” tergantung seninya) yang ditemukan pertama kali di Chiang Rai (saya sudah kesini juga), pada tahun 1434. Karena ini biara, tentu saja banyak yang masuk untuk berdoa, melantunkan Puja, atau hanya sekedar “respect”.
2. The Upper Terrace
 Taken by Sofyan Yudianto
Teras ini terletak persis didepan Biara Zamrud Hijau dan merupakan gabungan dari 4 bangunan yaitu Phra Siratana Chedi (The Golden Chedi), Phra Mondop , Prasat Phra Dhepbidorn alias “The Royal Pantheon”, dan model bangunan Angkor Wat (dibuat oleh Raja Rama IV). Ya sebagai seorang pramuwisata saya harus tau guys. Who knows saya dapat kesempatan bawa turis Indonesia jalan-jalan ke Bangkok. 
Taken by Sofyan Yudianto
Phra Mondop adalah bangunan khusus untuk teks Buddhis diatas daun palem yang dikeramatkan. 

3. Subsidiary Buildings
Nah, dibelakang “The Upper Terrace” ada 3 bangunan yaitu. Hor Phra Monthian Dharma alias perpustakaan , Phra Wiharn Yod alias Wihara, dan Hor Phra Naga alias bangunan suci untuk abu-abu dari jasad keluarga kerajaan (berani mengunjunginya?).

4. The Galleries
 Hanoman or Hanuman versi Thai
Yup, galeri ini sangat mudah dilihat. Dari “Ticketing Area”, kalian belok kiri maka terpampanglah lukisan indah didinding bagian dalam dan berwarna cantik. Tentunya galeri lukisan ini ada kisah-kisahnya. Lukisan dinding ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Rama I dan membacanya dimulai dari belakang Phra Wiharn Yod. Tidak berurutan juga tidak apa-apa kok! 
Kisahnya sama dengan relief-relief di Candi Brahma dan di Candi Siwa, Prambanan. Ya, kisah yang familiar yaitu Ramayana! Jeng, jeng, jeng!  Hanya nama Rahwana-nya versi Thailand (Thotsakan), Kumbakarna-nya menjadi Kumpakan, Indrajit nama Thai-nya Indrasit, Alengka menjadi Longka. Sungguh menarik! Thailand (dulu: Siam) itu kerajaan ber-asaskan ajaran Buddha tetapi nampaknya kisah Ramayana disukai oleh Raja Rama I.  

5. The Phra Maha Monthian Group
Lokasinya adalah disebelah kanan dari “Ticketing Area”. Mayoritas turis terjebak di komplek utama dan kemudian langsung ke pintu keluar. Padahal kalau mau jeli membaca peta, kita bisa ke Phra Maha Monthian yang terdiri atas 3 bangunan yaitu Amarinda Winitchai Hall, Paisan Taksin Hall, dan Chakraphat Phiman Hall. Menariknya, warna atapnya hijau berpadu dengan warna oranye – keemasan.
Amarinda Winitchai adalah gedung untuk upacara-upacara kerajaan dan dibangun pada tahun 1785 oleh Raja Rama I. Adapun Paisal Taksin adalah gedung untuk penobatan para Raja Thailand. Kemudian Chakraphat Phiman adalah tempat kediaman Raja Rama I-III. Jalan-jalan dari area 1-5 ini kita memerlukan waktu hampir 3 jam!
6. The Cakhri Group

Bangunan spesial yang didanai oleh Raja Rama V alias Chulalangkorn, Raja Thailand yang pernah bertandang ke Jawa Tengah dan berhasil membawa banyak patung Buddha, ornament Kala, serta panel-panel relief dari Candi Borobudur. Chakri Maha Prasat adalah nama lengkap bangunan ini dan proyeknya selesai pada tahun 1882.
Selain sebagai singgasana raja, juga menyimpan berbagai galeri seni dan juga untuk menerima para duta besar asing.

7. The Dusit Group
Terdiri dari 3 bangunan (Dusit Maha Prasat, Rajkaranyasapha, dan Aphorn Phimok), tetapi tidak sebesar The Cakhri Group. The Dusit dibangun oleh Raja Rama I sebagai tempat untuk bersantai bagi Raja dan keluarga kerajaan. Memang, ada kebun yang indah diantara The Dusit Group dan The Phra Maha Monthian Group. Tempat bersantai yang memang menyenangkan.

8. The Borom Phiman Mansion
Bangunan baru ini dibangun oleh Raja Rama V alias Chulalangkorn pada tahun 1903. Rumah besar ini memang dibangun untuk anak-nya yang kemudian menjadi Raja Rama VI – Raja Rama IX. Saat ini fungsinya untuk menjamu para tamu VVIP dari negara-negara asing.

9. Queen Sirikit Museum of Textiles
Ratu Sirikit memiliki perhatian khusus terhadap tekstil khususnya dari Thailand. Tetapi museum ini juga memiliki koleksi tekstil dari berbagai negara di Asia Tenggara, Timur, maupun Selatan. Museum ini sangat mudah dikunjungi karena setiap turis pasti melewati-nya sebelum membeli tiket The Grand Palace. Museum ini merupakan Bangunan lama yang direnovasi pada tahun 2003, dan dibuka untuk umum pada tahun 2012. 
 Sempat mengobrol sebentar dengan adik-adik mahasiswi yang menunggu di pintu keluar
Kalian bisa seharian menikmati segala fasilitas di The Grand Palace alias Wat Phra Kaew, tidak termasuk Wat Pho dan Wat Arun. Dan, saya pribadi menyarankan tidak mengunjungi 3 Wat ini dalam 1 hari. So, selamat jalan-jalan dan semoga informasinya bermanfaat!
One ticket for some famous destinations. Very worth it!
Special thanks to :
1. Sofyan Yudianto, the owner of www.javaadventuretrail.com for the amazing pictures.
2. Janzynn MAy https://www.instagram.com/makeupbyjanzynn/  for your help

Follow me on Instagram https://www.instagram.com/yoga.efendi/ 
Follow my YouTube Channel : yojalan-jalandab or click the link below https://www.youtube.com/channel/UCbKX0rDkrP_0f7xiiBse5yw 

Jumat, 02 Maret 2018

JALAN-JALAN KE CHIANG MAI (A Travel Note)


       "Wai" in Wat Phra That Doi Suthep, Chiang Mai - Thailand (Taken by Sofyan Yudianto)

A friend of mine, Halim Karnadi is traveling to Chiang Mai today. Suddenly, I remembered my journey 2 years ago in Chiang Mai too with Sofyan Yudianto, my best friend from Banyuwangi – East Java. Ah, Chiang Mai…you know, even until now I never forgot all the experiences in this unique city. Here, I’ve felt the true smiling of Thai people. Bangkok for me too crowded but here was more relax, slower life, and had many coffee cafes. What a lovely place to explore guys! Life is traveling my friends, life is journey, and you may choose what kind of destinations you love. 
Buddha Rupam (Chiang Mai Style), taken by Sofyan Yudianto

I believe if there are no coincidences in this world. All things in this universe are connecting each other especially all creatures on this planet that we called Earth. Not only human being but also dogs, horses, cows, tigers, fishes, and even insects, trees, grasses, bushes, and any kind of plants have connections. The Source of Life is connecting all of us. And, all cycles for human being are a part of Law of Natures. This is consequences living as a human. To increase our awareness about life, there is one method that I love called “traveling”. 
 Chiang Mai is known as a Kingdom of Tiger
Chiang Mai adalah kota terbesar kedua di Thailand dan memang belum sepopuler Bangkok atau Phuket. Phuket itu seperti Pulau Bali –nya Indonesia, Bangkok ya seperti Jakarta, dan Chiang Mai itu lebih mirip seperti Yogyakarta. Banyak kemiripan dari sisi historis, kerajaan masa lampau, keramah-tamahan orang-orangnya, seni dan budaya yang masih banyak terjaga, perlawanan terhadap penjajahan asing sehingga tidaklah mengherankan antara Yogyakarta dan Chiang Mai terjalin hubungan khusus yang disebut “Sister City”. Bukan dengan Kota Solo lho ya? No offense my friends from Solo but this is the fact! 
Yogyakarta and Chiang Mai are "Sister City"
 
Bisa-bisanya kontributor sekelas Majalah Destinasi Asia (Cover-nya Sandy Aulia) menulis hal yang keliru soal ini. Dimana itu sisi obyektif-nya? Opini pribadi yang gak berdasar dari nara sumber dijadikan referensi tulisan. Tapi ya sudahlah, gak penting untuk dibahas. 

Sebagai warga Yogyakarta, sungguh nista diri ini kalau jalan-jalan ke Thailand tetapi tidak mampir ke Chiang Mai. Apalagi, Chiang Mai memiliki seni dan budaya sendiri yang unik serta berbeda dengan yang lainnya. Seni dan Budaya Lanna yang bersumber dari Kerajaan Lanna dimasa silam tetapi masih terjaga tradisi-tradisinya hingga kini. 
Very comfortable Bus!  

Saya dan Sofyan ke Chiang Mai menggunakan Bus malam dari Bangkok (Perusahaan Sombat) dan kami ambil kelas VIP. Gila! Terasa seperti naik pesawat kelas bisnis! Space kaki yang cukup luas, ada TV LCD kecil disetiap tempat duduk (ada banyak koleksi film-film juga), selimut, AC yang dingin (Brrrr), minuman susu kedelai (merk Yeo), wafer, snacks, roti, dan seat-nya yang empuk. 

Well, dalam hal ini Indonesia lewat! Thailand has much better services and facilities for Bus. I am sorry Indonesia! You should learn more. Sebenarnya kami ngantuk berat tetapi eh ada film Thailand bagus, Heart Attack. Ya sudahlah, nonton juga sampai selesai dan kemudian terhanyut oleh mimpi masing-masing. 
 Situation inside of our bus!
Memori yang tidak terlupakan di Chiang Mai adalah karena kami dijamu oleh seorang kawan yang notabene pernah saya servis saat liburan ke Jogja pada tahun 2014 awal. Rombongan dari Rajamangala University Tecnology of Lanna. Salah satunya akrab dengan saya, namanya Nueng Nathibayapthis yang sekarang menjadi Kopi Barista Nasional di Thailand. 
Nathibayapthis Family also has business in Design and Construction (http://www.nathibayapthis.com/)
 
Seorang Kopi Barista muda dan memiliki usaha Coffee Café sendiri, Hohm Café (https://www.facebook.com/hohmcafe/ ). Dua tahun yang lalu, dia bilang ingin membuat usaha café – nya terkenal. Saya mengamati sendiri selama dua tahun terakhir betapa gigihnya dia berjuang melalui Facebook. Luar biasa! I am so proud of you Khun Nueng!

A Famous Coffee Cafe (Hohm Cafe) in Chiang Mai where belong to Nathibayapthis Family 
 
Khun Nueng Nathibayapthis dan keluarga menjamu kami direstoran dan mencoba makanan khas Lanna. Mengantarkan kami ke Wat Ched Yod, keliling kota lama Chiang Mai, dan bercerita soal menjamurnya turis dari Tiongkok (China Mainland). 
Chiang Mai Coffee from Hohm Cafe (Owner Khun Nueng Nathibayapthis)
Tentu saja, saya dan Sofyan mencoba berbagai macam kopi dari Chiang Mai di Hohm Café. Mulai dari yang rasanya dominan asam dan sedikit pahit, pahit tanpa asam sama sekali, dominan pahit dan sedikit asam, dll. Wow! We were drunk of Chiang Mai coffee at that time!. What a wonderful experiences. Juga, dapat souvenir dari kawan yang lain, Khun Taa. 
  Sofyan, Me, and Nathibayapthis Family. What a very nice hospitality! Thank you so much!
Kalau soal Candi atau Wat, di Thailand itu ada banyak sekali namun untuk Chiang Mai, yang terkenal adalah Wat Phra Singh dan Wat Chedi Luang (didalam kota lama). Lalu Wat Ched Yod diluar kota lama dan cukup dekat dengan Hohm Café serta Wat Phra Doi Suthep yang berlokasi diatas bukit. I miss traveling!
 Pay respect to the Buddha Rupam, Wat Phra That Doi Suthep, Chiang Mai - Thailand (taken by Sofyan Yudianto)
Sungguh rasanya traveling itu membuat jiwa ini mendapatkan suplemen vitamin yang luar biasa. Bertukar pikiran dan berinteraksi dengan warga lokal, berbagi pengalaman, belajar toleransi, belajar menjadi pendengar yang baik, mencoba hal-hal yang baru, dll. Sungguh nikmat tiada terperi.
 Buddhist Monk from Sangha Theravada in Wat Phra That Doi Suthep
I definitely will come back to Chiang Mai when there is a chance. Thank you my Chiang Mai friends especially to Nathibayapthis Family! May Force be with Us!

About Nathibayapthis Family
Hohm Cafe                  : https://www.facebook.com/hohmcafe/ 
Owner of Hohm Cafe  : https://www.facebook.com/prietnathi 
Nathibayapthis Group : http://www.nathibayapthis.com/

About Me
Instagram : https://www.instagram.com/yoga.efendi/ 
Facebook : https://www.facebook.com/yoga.efendi.9 
Whatsapp : +6285669307197 (Message Only)


Jumat, 06 Mei 2016

Bangkok ? Jakarta? Yogyakarta?




(Bangkok at night. Doc.Sofyan Yudianto) 

Bangkok is a city that has the longest name in the world (Guinness Book of Records). The official name is “Krung thep maha nakhon amorn ratanakosin mahin-tharayutthaya mahadilok popnoparat ratchathani burirom udomratchanivet mahasathan amornpiman avatarnsathit sakkathattiya visnukarmprasit”, or just Krung Thep or Bangkok. Ha ha, it is so long, isn’t?”. This municipality (maha nakhon), also the capital of modern Thailand is almost never sleeping every day, every night. If compare with Jakarta in Indonesia, I prefer Bangkok to be honest. 

(Inside of BTS Skytrain) 

Why? Well there are some factors but I can give you one crucial example, the integrated mass transportation system. In Bangkok, you can find MRT, BTS SkyTrain, Airport Rail Link (City Line and Express Line), Bus Rapid Transit (BRT), Phaya Thai (Express Line) here which really can help you to explore Bangkok easily. In Jakarta? Well, Jakarta is busier than Bangkok but no MRT yet (under construction), no BTS SkyTrain yet, no Airport Rail Link, my friends. Not integrated yet. And one more thing that I like from Bangkok is safe for tourists and safe for pedestrians. The security system in this capital, in my opinion is good.

(Victory Monument in Bangkok)

I’ve explored some destinations in Bangkok last month for 2 days, such as Victory Monument, Dusit Zoo, Vimanmek (The World’s Largest Golden Teakwood Mansion), Suan Amphorn, King Rama V Monument, Wat Benchamabophit, Wat Saket (Golden Mount), and Jim Thompson's House, only by on foot guys, even until evening. No worried at all! Bangkok was so safe, and that surprised for me at that time. 

You know what; I didn’t dare to do the same thing in Jakarta. I love my country; I love Jakarta because I have good relatives and good friends who are living there, the destinations in this capital also interesting for me, the old city (Kota Tua) is so historical, the foods are awesome, the nightlife’s attractions are amazing, the shopping malls are huge and completes, and to be honest Jakarta in some things are greater than Bangkok. 

But, I didn’t feel safe walking around alone in Jakarta, and this is not only me. Many of my friends felt the same thing. In Bangkok, I felt so confident, safe, and found my ‘moment of solitude’. Then, about the traffic jam in Bangkok in the rush hours, many foreigner tourists and local people said that “so crowded”, but they didn’t know if Jakarta is worse. Traffic Jam in Bangkok, or even in Manila is nothing than Jakarta. 

Bangkok without MRT and BTS SkyTrain are exactly like Jakarta, crowded almost all of the time! That’s why many foreigners were not comfortable when traveling to Jakarta. In my opinion, Jakarta must finish the MRT project as soon as possible and increasing the security system, so that more foreigner tourists will travel to Jakarta and explore this historical city, in the future. As a professional and licensed guide in Indonesia, I am so lucky living in Yogyakarta. 

 (Prambanan, one of main destinations in Yogyakarta Special Province, Java Island, Indonesia)
Yogyakarta is the heart of Java, the old capital of Indonesia, the city of education in Indonesia, the center of Javanese arts and cultures, and the city that nears UNESCO World Heritage Sites (Borobudur, Prambanan, and Ratu Boko), many various additional destinations (volcano, shrines, palaces, beaches, dances), and the second most popular destination in my country after Bali. In Yogyakarta is the same like in Bangkok for the security system. That’s why many local and foreigner tourists are coming to my city. Yogyakarta is one complete package for your trip. 

(Borobudur, the largest Buddhist temple in the world)

For domestic tourists, Yogyakarta is number one destination in Indonesia, because the costs of foods are cheaper here than Jakarta or Bangkok, not as traffic as Jakarta or Bangkok, smiling peoples, various destinations, ancient temples before 10th century, even Borobudur and Prambanan are older and more well preserved than Angkor Wat in Cambodia. Well my friends, when you are traveling to Indonesia, please try the legendary route (Java – Bali – Lombok – Flores – Komodo Island), and you will find why Indonesia is the islands of imaginations.

Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...