Kamis, 31 Januari 2019

2019 (Vision)



Hello Good Readers! Let’s say goodbye 2018 and welcome 2019! I was happy with 2018 and also sad. It was because of natural disasters happened in Indonesia. The latest one was eruption from Anak Krakatau (Child of Krakatoa) in the middle of the sea (Sunda Strait), between Sumatera Island and Java Island. As a Javanese-Indonesian, I really understood the consequence living in this country especially Java Island. My big condolence for all the victims and May Peace belong to them. Amen.
For new readers, please open this link… before reading this so that you will get more understanding. Please use a translate feature powered by Google and choose a language you like. I am writing about this for sharing. That’s it

Tahun 2018 menjadi tahun terbaik sesuai yang saya inginkan dan juga saya mendapatkan kejutan. Terima kasih Tuhan, terima kasih semesta. Tahun 2018 adalah tahun spiritual. Apapun yang kita alami pada tahun ini (sedih atau bahagia), sebenarnya adalah ujian untuk memperkuat kecerdasan spiritual kita. 


Ujian setiap manusia berbeda-beda tergantung Qodo (Ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Tuhan) dan Qodar (Ukuran atau daya tampung).  Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada manusia diluar batas kesanggupannya.Sesungguhmya yang namanya jodoh, rizki, dan mati adalah rahasia Tuhan. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha. BERDOA DAN BERUSAHA.

 Hal-hal yang saya tulis tentang 2018 dan 2019 adalah interpretasi murni dari apa yang saya pelajari dan pahami melalui tanda-tanda (the signs) yang diberikan oleh Tuhan melalui alam semesta (makro dan mikro kosmos). Jadi, jangan anggap saya dukun ya! he he he. 

‘The 6th Sense’ atau Indera Keenam itu memang ada. Ini hal yang biasa atau lumrah sebenarnya dan merupakan sebagian kecil Ilmu Tuhan. Hanya saja, terkadang masyarakat kita terlalu berlebihan dalam menanggapinya (karena ada faktor dari budaya-budaya populer dan media juga sih).

 Setiap orang memiliki keahlian khas (special ability) yang berbeda dalam hal ini. Tidak selalu sama. Saya pernah dikatakan oleh seseorang bahwa saya punya bakat, tetapi tidak diasah. Saya sadar, bahwa saya harus sering berlatih. 

Lalu bagaimana filosofi tahun 2019 ini? Saya akan coba kupas satu persatu. Berdasarkan sudut pandang ‘Matahari’ atau ‘Surya’. Sedangkan dari sudut pandang ‘Bulan’ atau ‘Candra’, saya belum mempelajarinya. Jadi, ini adalah interpretasi murni saya, berdasarkan numerologi matahari. Sifatnya tidak mutlak. 

Angka 2 adalah simbol dualisme dunia demi keseimbangan, angka 0 adalah keheningan atau kehampaan (emptiness/Sunyata) yang bisa juga diartikan meditasi dan konsentrasi, angka 1 adalah Yang Maha Esa (Tuhan) atau “manunggal”, angka 9 adalah enerji delapan arah mata angin yang terpusat dititik inti demi keseimbangan dan kekuatan. Secara umum inilah filosofi 2019.  

Angka 2. Yang kita harus pahami bersama bahwa hidup dan kehidupan ini memiliki siklus. Terjadinya siang dan malam, adanya matahari dan bulan, api dan air, langit dan bumi, mikro kosmos dan makro kosmos, baik dan jahat, serta peradaban gelap dan terang disebut sebagai “Cokro Manggilingan”. 

Semuanya memiliki masa (waktu) demi keseimbangan yang terjadi di alam dunia atau semesta maupun alam ruhani atau spiritual. Alam “abu-abu” atau Alam Tengah juga merupakan bagian dari prinsip ini. Suatu proses transisi. Dualisme juga memiliki sisi tengah. Ini menurut interpretasi saya. 

Filosofi 0. Hidup sejatinya adalah ilusi bila dilihat dari sudut pandang makro kosmos. Intinya “we are just dust in this universe”. Bila dilihat dari kacamata bumi, hidup ini penuh dengan “kemelakatan” atau keinginan-keinginan duniawi yang bersifat kesenangan jasad. Nikmat memang tetapi semu dan lama-lama akan menuju titik jenuh. Mencari kesenangan dunia itu boleh, karena kita manusia. Sah-sah saja. 

Keheningan atau kehampaan, meditasi dan konsentrasi sangat diperlukan demi menyeimbangkan dan mengontrol keinginan-keinginan duniawi tersebut. Caranya pun bermacam-macam. Tergantung manusianya. Itulah filosofi angka 0 bagi saya. Tidak ada justifikasi disini. Karena hanya Tuhan yang berhak menjadi Sang Hakim Sejati. Hukum Karma berlaku. “Ngunduh Wohing Pakarti, Becik Ketitik Olo Ketoro”.

Angka 1. Bahwa setiap manusia memiliki sifat “ketuhanan” didalam dirinya terlepas dari apa warna kulitnya, sukunya, agama atau kepercayaannya, bangsanya, rasnya, dll. Sifat “ketuhanan” ini atau istilah lainnya adalah “God Spot” terletak di kecerdasan spiritual. 

Sifat ini bisa “dipupuk” dengan berbagai macam metode tergantung dari manusia tersebut. Contohnya sifat “welas-asih”. Ini adalah sifat universal yang bisa dimiliki oleh siapapun. Upaya untuk “memupuk” sifat tersebut merupakan salah satu contoh dari “manunggal”. Hubungan manusia dengan apa yang dia percayai. 

Angka 9 merupakan kesatuan dari enerji 8 arah mata angin demi keseimbangan spiritual khususnya, yang akan berdampak pada keseimbangan raga maupun rejeki. Spiritual yang baik, raga yang baik, dan rejeki yang baik. Salah satu rahasia rejeki adalah berjalan paralel dengan kualitas diri. Semakin terus mengasah diri, maka rejeki akan mengikuti. Saya sendiri sudah membuktikannya.

Namun, niatnya harus ikhlas, tulus dan murni demi pengabdian kepada Tuhan. Maka, rejeki akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka apakah itu dari timur, barat, utara, atau selatan. Pada prinsipnya, tidak akan berubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau berubah. 

Bencana karena ulah manusia, adalah hukum sebab-akibat yang disebabkan oleh manusia. Bencana dari alam seperti erupsi, gempa bumi, atau tsunami adalah cara alam menyeimbangkan dirinya sendiri. Kita sebagai manusia diminta memahami akan hal ini. Bencana karena ulah manusia sangat merugikan alam dan lingkungan, sehingga menyebabkan manusia-manusia dan mahluk lainnya turut menjadi korban. 

Akan ada gunung berapi yang meletus lagi pada tahun 2019 ini…
Manusia Indonesia diminta selalu ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap tanda-tanda dari alam. Kita diminta selalu berusaha selaras dengan alam dan jangan menentang alam. Saya mendapat visi bahwa tahun 2019 akan ada gunung berapi yang meletus. Saya tidak tahu dimana lokasinya tetapi gambaran lava pijar yang merah menyala dari sebuah gunung menunjukkan jelas akan hal ini. 
Ikuti himbauan dari pemerintah. Karena kalau soal gunung berapi, pemerintah memiliki tenaga ahli dan teknologi yang mumpuni. Gunung Agung yang erupsi tahun lalu di Bali, setahu saya tidak menimbulkan korban jiwa karena masyarakatnya mengikuti himbauan dari pemerintah setempat. Ini merupakan langkah yang sangat baik. Apalagi saat ditempat pengungsian, mereka saling bahu membahu dan saling menguatkan. 

Tahun 2019 adalah tahun politik, tahun pemilihan presiden, tahun penentuan…
Jangan ikuti apapun atau siapapun yang mengarahkan kita kepada kebencian, hasut, fitnah atau hoax, dan ketakutan berlebihan alias teror. Kalau kita ikuti maka akan berdampak kepada keseimbangan batin dan raga kita sendiri yang juga akan mempengaruhi rejeki. Percayalah, saat ini ada upaya besar untuk mengacaukan pemilihan presiden. Tetapi, juga ada upaya besar untuk mencegahnya.  

Jadi, kita tidak perlu khawatir akan hal ini. Biarkan pemerintah bekerja. Kita juga bekerja sesuai keahlian kita masing-masing. Fokus pada pekerjaan kita saja dan berusahalah yang terbaik. Karena saya percaya, jika sudah saatnya matahari terbit, ya tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya. 

Bangsa Nusantara sudah lama berada dalam ‘kemunduran’ dan dalam beberapa tahun terakhir sudah ada progress walaupun belum dirasakan oleh semua pihak. Namun bukti pemerintah bekerja itu memang nyata. Sekarang semua tergantung generasi muda. Ingin bangsa ini maju atau mundur lagi? Saya menghimbau agar kita maju bersama-sama. Karena nasib bangsa ini akan berubah kearah yang lebih  baik, jika warganya juga berusaha menuju kearah yang sama.

Minggu, 30 Desember 2018

JALAN-JALAN KE HO CHI MINH CITY (PART II)


Hello Good Readers! This is my last travel story this month. For the new readers, please open this link  https://yojalan-jalandab.blogspot.com/2018/11/travelling-to-ho-chi-minh-city-part-i.html for reading the previous story about Vietnam. Don’t forget, you can use Translate Feature powered by Google on this blog. There are more than 100 languages! 

Setelah dinner di lokal convenient store, saya melanjutkan jalan kaki ke Bui Vien Walking Street yang sangat terkenal di Ho Chi Minh City. Bising, ramai, sibuk, banyak pub dan tempat karaoke disini. Super busy walking street and of course very touristic! 

 Saya mah ogah nginap di jalan yang berisik seperti ini. Sempat terpikir ingin menginap di jalan ini sebelumnya, namun saya batalkan karena saya pribadi orang yang memerlukan ketenangan untuk istirahat. Karena akomodasi tempat menginap sangat spesial (OYO 101 Saigon Hotel), saya memutuskan kembali untuk berendam di bathtub! He he he…nyante bener pokoknya! I need this, because in the next day I will walk around to the city. 
Propaganda mural in Bui Vien Walking Street

Saya sempat menonton acara Sinetron stasiun TV lokal dan mirip-mirip lah formulanya dengan Sinetron Indonesia. Untungnya di OYO Saigon ada banyak saluran TV internasional, sehingga waktu santai tidak membosankan. Saat itu Halim Karnadi, teman seperjalanan di Brunei Darrussalam meminta tolong saya untuk bertemu dengan pacarnya yang berdomisili sementara di Saigon. Saya tidak keberatan. Jalan kaki dan bertemu Emma, adalah itinerary utama. 

Keesokan harinya saya mulai jalan kaki pada pukul 06.00 AM dan di depan hotel sudah ramai dengan ibu-ibu jualan sayuran. Tujuan pertama adalah Pasar Ben Than yang terkenal itu. Karena masih pagi, lalu lintas belum ramai dan termasuk lengang. Saya menyukai trotoar disini karena ramah untuk pejalan kaki dan juga melewati taman kecil di distrik 1. 
1 jam berjalan, sampailah saya di Pasar Ben Than. Sangat mudah menemukan-nya Pasar ini sebagian sudah dibuka dan ada beberapa pedagang bunga telah siap dengan toko-toko-nya. Saya hanya berjalan di luar dan tidak berminat memasuki pasar tersebut. Kenapa?

Karena pasar-pasar besar di Asia Tenggara itu pada dasarnya memiliki konsep yang tidak berbeda jauh yaitu barang-barang grosir ala Pasar Beringharjo Yogyakarta, kedai-kedai makan, toko-toko cinderamata kualitas biasa, mainan anak-anak, jajanan pasar, dan lain-lain. 
Justru yang paling menarik bagi saya dari Saigon adalah bangunan-bangunan kolonial dengan arsitektur Perancis-nya seperti Ho Chi Minh City Hall, Saigon Notre Dame Cathedral, Central Post Office, dan Independence Hall. 

Sebenarnya ada nama-nama dalam bahasa Viet untuk setiap bangunan bersejarah disini, akan tetapi sangat sulit diucapkan. Contoh nama marga ‘Nguyen’ yang sangat terkenal dinegara ini, itu pengucapannya adalah ‘Ngoi’. Dan lagi tidak semudah itu Fergusso! Pengucapan ‘Ngoi’ itu ada naik turun nadanya yang trust me, very difficult to pronounce. 
Setelah melewati Cho Benh Than, saya langsung jalan lagi menuju Ho Chi Minh City Hall yang ada patung Uncle Ho. Namun sayang entah karena apa, patungnya ditutup terpal biru. Saat itu hari minggu dan dari kejauhan saya melihat banyak orang berkumpul agak jauh di depan City Hall. Olala! Ternyata ada latihan bela diri yang dilakukan oleh para siswa-siswi dan juga senam beladiri untuk para lansia alias lanjut usia. Wow! 
Untuk para siswa-siswi, mereka mendapatkan perintah dengan sedikit gaya militeristik. Para guru olahraga-nya terkesan galak (atau mungkin memang harus begitu?). Acara ini disponsori oleh Nestle dan sangat ramai sekali dan diliput oleh media TV. Para turis asing juga turut berdatangan untuk menyaksikannya. 
Filosofi acara ini mendidik generasi muda agar sehat dan bugar, karena mereka masa depan bangsa. Untuk para orang tua juga harus tetap latihan demi memberikan contoh kepada generasi muda. Acara yang bagus! Kalau di Jakarta ada acara serupa setiap hari minggu, tentulah bagus juga. Biasanya kalau di Yogyakarta ada cycling, car free day, atau parade budaya. 

City Hall dijaga ketat oleh tentara bersenapan laras panjang. Kelihatan sekali kawasan ini sangatlah penting. Selain itu, juga terdapat bangunan-bangunan pencakar langit dan shopping mall. Setelah cukup lama mengambil dokumentasi disini, saya lanjut jalan kaki ke Notre Dame yang juga menjadi wisata ikonik di Saigon. 
Sebelum sampai katedral, ada banyak foto-foto yang dipajang disisi kanan jalan utama tentang kondisi Vietnam ketika masih terpecah dua,  antara utara dan selatan. Foto-foto lama tentang perang saudara dan juga perang dengan Amerika Serikat kala itu. Ada slogan yang sangat terkenal ketika perang dengan USA yaitu: “All for the front line, all to defeat the American invaders”. Vietnam sangat bangga dengan kemenangannya. 

Juga ada beberapa poster propaganda dengan lambang palu arit (komunis) dan lambang bintang besar berwarna kuning (lambang Vietnam). Vietnam adalah negara di bawah pemerintahan komunis sebagai  Republik  Sosialis sejak tanggal 2 Juli 1976.  Partai Komunis Vietnam mempertahankan kontrol atas semua organ-organ pemerintah. Saya akan bahas tentang ini ditulisan yang lain.
Di area ini, juga dijaga oleh para tentara. Saya mendokumentasikan foto-foto yang terpajang satu persatu dan nampaknya saya diawasi (enerjinya kerasa guys). Tatapan mereka dingin bro dan sis! Mereka mengawasi, karena hanya saya satu-satunya turis yang curious dengan hal ini, padahal yang lainnya sibuk di sekitar katedral. Saya santai saja, karena pada dasarnya saya menyukai sejarah. 
Katedral Notre Dame Saigon dibangun sekitar tahun 1880-an pada masa penjajahan Perancis dan sudah direnovasi beberapa kali. Katedral ini secara arsitektur mirip dengan Katedral Katolik Bunda Maria dari Gunung Karmel di kota Malang, tetapi yang di Saigon ini lebih besar dan megah, menurut saya. 

Disamping katedral, ada Central Post Office yang dibangun penjajah Perancis dengan bantuan arsitek terkemuka saat itu, Gustave Eiffel pada tahun 1891. Yup! Sang arsitek juga merancang Eiffel Tower di Paris. Kawasan ini juga umum bagi para mahasiswa-mahasiswi universitas, untuk melakukan foto bersama setelah wisuda kelulusan. 

Saya masuk ke Post Office untuk membeli perangko, karena saya memang seorang kolektor. Saya membeli yang special edition bangunan-bangunan bersejarahseharga VND 100.000, dan juga membeli magnet serta gantungan kunci. Saya tidak berani beli yang berlogo palu arit! Wekekeke…berabe nanti urusannya. Agak disayangkan, para penjual disini tidak murah senyum, dan cenderung serius alias poker face.  

(Bersambung aka To Be Continued to Part III)







Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...