Minggu, 22 April 2018

KOPI INDONESIA YANG HARUS KAMU KETAHUI



Saya terkadang “gemes” dengan sebagian masyarakat Indonesia. Karena literasi yang  rendah, sehingga kebanyakan “waton ngomong”, “asal jeplak alias bacot”, “asal ngasih pernyataan”, dan sebagainya. Ya, boleh lah kalau dikatakan ini merupakan sedikit kegelisahan saya. Ini soal tabiat minum kopi orang Indonesia. Saya pikir saya sendirian, eh ternyata tidak. Banyak kopi barista yang saya temui kurang lebih memiliki pandangan yang sama.

Pengetahuan orang Indonesia tentang kopi, umumnya sangat memprihatinkan dan tradisi minum kopinya juga menyedihkan. “Orang kita itu kebanyakan gak ngerti kopi, tapi ketika dijelaskan kebanyakan ngeyel. Memang tidak mudah mengedukasi orang awam yang datang ke kafe” begitu pernyataan Mas Fadhil, kopi barista yang saya temui di Jogja City Mall kemarin. Lain lagi dengan Sayid Ali, spesialis Kopi Luwak Arabika Java Organik dari Bantul. 

“Perlu edukasi terus menerus Mas. Bisa dibuat event-event lokal, nasional, dll. Seperti event minum kopi disepanjang Jalan Malioboro kemarin itu saya pencetus idenya” imbuhnya. Mas Pepeng, pemilik Klinik Kopi juga memiliki filosofi mulia mengenalkan kopi Indonesia dengan metode pemanggangan “light”. Kebanyakan kopi-kopi yang tersedia di kafenya tidak pahit atau samar-samar saja pahitnya. 

 “Selera orang kan lain-lain mas!”…..ya memang betul itu, saya juga setuju. Selera tidak bisa di“judge”. Yang jadi pertanyaan, ketika kita bilang seperti itu apakah murni pernyataan setelah kita paham kopi, atau hanya karena gak mau tau atau “emang gue pikirin”? Yang sering terjadi adalah “gak mau tau”, padahal kopi Indonesia itu juara dunia dan salah satu dari 4 komoditas ekspor! Soal kualitas, Kopi Vietnam itu lewat!!!


Pada tahun 2016 bulan Juni saya menulis tentang kopi Indonesia dan mengkritik seorang traveler karena dangkal pemahaman-nya  soal kopi. Dia bilang kopi Vietnam enak! Hellloowww! Dalam dunia perkopian, sebenarnya kata “enak” itu ada klasifikasinya jika kita berbicara “kopi khusus (specialty coffee)”. Specialty Coffee adalah biji kopi (umumnya varietas arabika) yang memiliki grade paling tinggi kualitasnya dan Indonesia juaranya. 

Tetapi kalau sudah dicampur dengan condense milk, glukosa, sukrosa, creamer, kebanyakan susu cair, kasih topping cokelat, whip cream, gula ini dan gula itu, vanilla foam, bubuk kakao dan lain sebagainya?  It is coffee or ? Ya lagi-lagi itu selera. Tetapi bukan itu yang dimaksud “enak” oleh para ahli kopi. 

Nah, kali ini saya mau membeberkan fakta soal kopi Indonesia agar kita semakin bangga dan minimal bisa adu argumen jika ada yang menjelek-jelekkan kopi Indonesia. Check it out!

Kopi Arabika Sumatera Gayo, Lintong, Kerinci, Solok Minang, Bengkulu, Jawa Barat Preanger dan Papandayan, Jawa Tengah Temanggung, Jawa Timur Bondowoso dan Kalisat, Bali Kintamani, Flores Bajawa, Sulawesi Toraja, dan Papua Wamena adalah “Specialty Coffee” yang dipamerkan pada perhelatan World of Coffee (WoC) Budapest 2017 di Hung Expo Budapest, Hongaria, pada tanggal 13-15 Juni. Transaksi sebesar 4,9 juta dollar AS pun berhasil dibukukan selama pameran dan kopi Indonesia jadi rebutan para “buyer”. 

Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian pada tahun 2017  mencatat, ada 1.233.483 hektare perkebunan kopi di Indonesia yang terdiri atas lahan kopi robusta (912.135 hektare) dan lahan kopi arabika (321.158 hektare). 1 hektare lahan kopi di Indonesia bisa memproduksi 707 kg kopi. 

Tahun 2016, produksi kopi robusta di Indonesia adalah 465.600 ton dan arabika sebanyak 173.900 ton. Di tahun yang sama pada tanggal 14-17 April di ballroom Georgia World Congress Center Atlanta – USA, kopi Indonesia menjadi jawara dalam ajang kompetisi kopi internasional yang diselenggarakan oleh Specialty Coffee Association of America (SCAA). Ada 17 “Specialty Coffee (Kopi Khusus)” yang dipamerkan dari berbagai pulau di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Flores, dan Papua Wamena. 

 Berdasarkan data Kementan (Kementerian Pertanian), selama 15 tahun terakhir luas lahan perkebunan kopi robusta menyusut 26% (dari 1,23 juta hektare menjadi 912.135 hektare) dan luas lahan arabika meningkat 287% (dari 82.807 hektare menjadi 321.158 hektare). Mengapa demikian? Karena permintaan pasar terhadap kopi Indonesia varietas arabika meningkat luar biasa khususnya yang “specialty coffee”. 

Di Indonesia, tren “Specialty Coffee” merebak sejak tahun 2010.
Banggalah dengan kopi Indonesia! Kopi itu unik.  Ada yang sedikit pahit, kecut, segar. Ada yang pahit samar-samar dan dominan manis.  Kopi itu “dalam”.  

Salah satu nara sumber : 
https://www.facebook.com/alexander.ali.355  (Sayid Ali)

Referensi dari berbagai sumber : 
1. Majalah Tempo Edisi Khusus Kopi : Rasa, Cerita, dan Aroma 
2. www.indonesian-investment.com

Selasa, 03 April 2018

The Grand Palace of Thailand (Brief Description)


 I am so interested with any kind of palaces on this planet. In Yogyakarta (my city) has a Sultan Palace aka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat and the function is the same like in Istana Nurul Iman, the palace for Sultan of Brunei. Because I live in the city of heritages, for me visiting The Grand Palace in Bangkok is a must. It is my top priority when traveling to Thailand. And, this is my story around 2 years ago…
 Bangkok was so hot and humid at that time! (walking to the main area)
I remembered at 14th March, Sofyan Yudianto (my traveling partner) and I went to The Grand Palace with Yan Zein (our Filipino friend who works in Bangkok) by taxy. She spoke English, Tagalog, Cebuano, a little bit Spanish, and Thai. Wow, that was something you know. She was really helpful and we were very lucky! 
 The main area of the grand palace
The Grand Palace adalah komplek istana Raja Thailand yang dibangun oleh Raja Rama I pada tahun 1782 (kalau Kraton Yogyakarta tahun 1755) dengan konsep “Mandala” seperti Candi Borobudur yang memiliki 4 pintu atau gerbang,  dan dikelilingi tembok seperti Candi Prambanan di Yogyakarta atau Komplek Angkor Wat di Kamboja. Panjang temboknya 1900 meter dan luas Istana ini adalah 218.000 meter persegi!
 Buddhist monks walking to the main entrance
Istana yang besar sekali! Sangat besar dan luas! “bonito y espektakular”! Mengagumkan! Nah, mulai lebay deh. But seriously, it was super cool palace! Istana ini tidak hanya merupakan tempat tinggal Raja – Raja Thailand terdahulu tetapi juga merupakan pusat administrasi dan juga biara bagi keluarga kerajaan. Intinya, istana yang lengkap! “The Grand Palace” dibagi menjadi 9 area yang total banguanan-nya ada 35! Banyak sekali yaa…
And, allow me to describe generally about the whole parts of the palace for you, my readers! 

1. The Royal Monastery of the Emerald Buddha
Bangunan ini mencolok karena atapnya yang berwarna biru tua berpadu dengan warna oranye – keemasan dan dekat dengan “ticketing area”, membuat biara ini menjadi tujuan pertama bagi turis (tetapi kebanyakan turis tidak tau). Karena banyak sekali turis dari Tiongkok, saya hanya menikmati dari luar saja. Sesuai namanya, didalam bangunan ada Arca Buddha yang dibuat dari bongkahan besar zamrud hijau alias “green emerald” yang indah.

Buddha Rupang ini bergaya Northern Thai (patung Buddha itu memiliki banyak “style” tergantung seninya) yang ditemukan pertama kali di Chiang Rai (saya sudah kesini juga), pada tahun 1434. Karena ini biara, tentu saja banyak yang masuk untuk berdoa, melantunkan Puja, atau hanya sekedar “respect”.
2. The Upper Terrace
 Taken by Sofyan Yudianto
Teras ini terletak persis didepan Biara Zamrud Hijau dan merupakan gabungan dari 4 bangunan yaitu Phra Siratana Chedi (The Golden Chedi), Phra Mondop , Prasat Phra Dhepbidorn alias “The Royal Pantheon”, dan model bangunan Angkor Wat (dibuat oleh Raja Rama IV). Ya sebagai seorang pramuwisata saya harus tau guys. Who knows saya dapat kesempatan bawa turis Indonesia jalan-jalan ke Bangkok. 
Taken by Sofyan Yudianto
Phra Mondop adalah bangunan khusus untuk teks Buddhis diatas daun palem yang dikeramatkan. 

3. Subsidiary Buildings
Nah, dibelakang “The Upper Terrace” ada 3 bangunan yaitu. Hor Phra Monthian Dharma alias perpustakaan , Phra Wiharn Yod alias Wihara, dan Hor Phra Naga alias bangunan suci untuk abu-abu dari jasad keluarga kerajaan (berani mengunjunginya?).

4. The Galleries
 Hanoman or Hanuman versi Thai
Yup, galeri ini sangat mudah dilihat. Dari “Ticketing Area”, kalian belok kiri maka terpampanglah lukisan indah didinding bagian dalam dan berwarna cantik. Tentunya galeri lukisan ini ada kisah-kisahnya. Lukisan dinding ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Rama I dan membacanya dimulai dari belakang Phra Wiharn Yod. Tidak berurutan juga tidak apa-apa kok! 
Kisahnya sama dengan relief-relief di Candi Brahma dan di Candi Siwa, Prambanan. Ya, kisah yang familiar yaitu Ramayana! Jeng, jeng, jeng!  Hanya nama Rahwana-nya versi Thailand (Thotsakan), Kumbakarna-nya menjadi Kumpakan, Indrajit nama Thai-nya Indrasit, Alengka menjadi Longka. Sungguh menarik! Thailand (dulu: Siam) itu kerajaan ber-asaskan ajaran Buddha tetapi nampaknya kisah Ramayana disukai oleh Raja Rama I.  

5. The Phra Maha Monthian Group
Lokasinya adalah disebelah kanan dari “Ticketing Area”. Mayoritas turis terjebak di komplek utama dan kemudian langsung ke pintu keluar. Padahal kalau mau jeli membaca peta, kita bisa ke Phra Maha Monthian yang terdiri atas 3 bangunan yaitu Amarinda Winitchai Hall, Paisan Taksin Hall, dan Chakraphat Phiman Hall. Menariknya, warna atapnya hijau berpadu dengan warna oranye – keemasan.
Amarinda Winitchai adalah gedung untuk upacara-upacara kerajaan dan dibangun pada tahun 1785 oleh Raja Rama I. Adapun Paisal Taksin adalah gedung untuk penobatan para Raja Thailand. Kemudian Chakraphat Phiman adalah tempat kediaman Raja Rama I-III. Jalan-jalan dari area 1-5 ini kita memerlukan waktu hampir 3 jam!
6. The Cakhri Group

Bangunan spesial yang didanai oleh Raja Rama V alias Chulalangkorn, Raja Thailand yang pernah bertandang ke Jawa Tengah dan berhasil membawa banyak patung Buddha, ornament Kala, serta panel-panel relief dari Candi Borobudur. Chakri Maha Prasat adalah nama lengkap bangunan ini dan proyeknya selesai pada tahun 1882.
Selain sebagai singgasana raja, juga menyimpan berbagai galeri seni dan juga untuk menerima para duta besar asing.

7. The Dusit Group
Terdiri dari 3 bangunan (Dusit Maha Prasat, Rajkaranyasapha, dan Aphorn Phimok), tetapi tidak sebesar The Cakhri Group. The Dusit dibangun oleh Raja Rama I sebagai tempat untuk bersantai bagi Raja dan keluarga kerajaan. Memang, ada kebun yang indah diantara The Dusit Group dan The Phra Maha Monthian Group. Tempat bersantai yang memang menyenangkan.

8. The Borom Phiman Mansion
Bangunan baru ini dibangun oleh Raja Rama V alias Chulalangkorn pada tahun 1903. Rumah besar ini memang dibangun untuk anak-nya yang kemudian menjadi Raja Rama VI – Raja Rama IX. Saat ini fungsinya untuk menjamu para tamu VVIP dari negara-negara asing.

9. Queen Sirikit Museum of Textiles
Ratu Sirikit memiliki perhatian khusus terhadap tekstil khususnya dari Thailand. Tetapi museum ini juga memiliki koleksi tekstil dari berbagai negara di Asia Tenggara, Timur, maupun Selatan. Museum ini sangat mudah dikunjungi karena setiap turis pasti melewati-nya sebelum membeli tiket The Grand Palace. Museum ini merupakan Bangunan lama yang direnovasi pada tahun 2003, dan dibuka untuk umum pada tahun 2012. 
 Sempat mengobrol sebentar dengan adik-adik mahasiswi yang menunggu di pintu keluar
Kalian bisa seharian menikmati segala fasilitas di The Grand Palace alias Wat Phra Kaew, tidak termasuk Wat Pho dan Wat Arun. Dan, saya pribadi menyarankan tidak mengunjungi 3 Wat ini dalam 1 hari. So, selamat jalan-jalan dan semoga informasinya bermanfaat!
One ticket for some famous destinations. Very worth it!
Special thanks to :
1. Sofyan Yudianto, the owner of www.javaadventuretrail.com for the amazing pictures.
2. Janzynn MAy https://www.instagram.com/makeupbyjanzynn/  for your help

Follow me on Instagram https://www.instagram.com/yoga.efendi/ 
Follow my YouTube Channel : yojalan-jalandab or click the link below https://www.youtube.com/channel/UCbKX0rDkrP_0f7xiiBse5yw 

Sabtu, 24 Maret 2018

Wow! Good News from Yogyakarta (You Must Know!)


Barrack Obama in Prambanan Temple - Yogyakarta (www.lifestyle.okezone.com)
I live in Yogyakarta. My residence is about 15 km from the volcano but I never afraid of it. Why? You know, volcano is a part of Javanese people’s life, a part of our soul, a part of our philosophy, a part of our family, and so on. Many foreigners miss understand about us who live on this island (Yava or Java or Jawa). Javanese and Balinese have similarity about volcano. We respect volcano as a part of mother earth and as long as you understand the characters of the volcano, everything’s gonna be all right.
 Merapi view point from The Lost World Castle (new destination in Yogyakarta) www.yojalan-jalandab.blogspot.co.id 
Living on the Island of Java must understand the consequences. Volcano is “giving” life and fertility, and also “taking” life sometimes. It is all right. This is how nature works for balancing the planet especially the island of Java. For example Merapi, there are some famous tours after eruption in 2010 such as Merapi Volcano Tour, Bukit Klangon, The Lost World Castle, and Merapi World of Landmarks. Tourism was increasing in Yogyakarta especially in Mount Merapi since few years ago. Of course, as a guide from here I am so happy.

Yogyakarta got a new award by Tropicalife Magazine (WWW.TROPICALIFE.NET ) last year as one of the “5 best culture and heritage destinations in Southeast Asia”. Number 1 is Bali Island (Indonesia), Number 2 is Yogyakarta (Java Island – Indonesia), and then Siem Riep (Cambodia), Luang Prabhang (Lao), and Hanoi (Vietnam). Wow! I am so happy and then more tourists were coming to Yogyakarta until now. I am happy again. 
  Barrack Obama in Borobudur (2017), the Largest Buddhist Temple in the World (www.viva.co.id)
I remember an old article at 5th September in 2014 that is written by “The New York Times” journalist about Yogyakarta. The title was “52 Places to go in 2014” and Yogyakarta got number 20! Here we go:
Borobudur, UNESCO World Heritage Site (www.kata.co.id )
20. Yogyakarta, Indonesia
“A volcano, a temple, a shrine and now a place to stay”
This central Java sultanate draws crowds for its proximity to be witching attractions: the monumental, wedding cake-esque Buddhist temple Borobudur, the soft-serve-ice-cream-shaped Hindu shrines of  Prambanan, and pre-sunrise hikes to summit Indonesia’s friskiest volcano, Mount Merapi. But finding a decent room has never been easy, until now. Thanks to tax breaks for hotel development, 20 new starred hotels, to complement the city’s existing 30, will open through 2015. Among them are Zest Hotel ( a Swiss – Belhotel brand) at the end of 2014 and, according to a director of the Tourism Promotion Agency of Yogyakarta, three new properties from Accor, whose brands include Sofitel and Ibis. – Sanjay Surana.
 Barrack Obama in Prambanan (2017), the largest ancient 9th Century Hindu Compounds in Indonesia (www.lifestyle.okezone.com)
And you know, accommodation is NOT a problem anymore here! You may come to Yogyakarta as a budget traveler, luxury traveler, group, and so on. Borobudur – Prambanan – Merapi Volcano Tour – Kraton – Tamansari are classic tours here but Yogyakarta also has new destinations. Thank you for Mr. Barrack Obama who visited Yogyakarta last year. Because of him, Puncak Becici (one of Pine Forest areas) was becoming very popular destination among locals and Asian tourists. 
The list below is famous new destinations in Yogyakarta. Check it out! 
1. Pantai Timang “Adrenaline Gondola”.
Wanna be like “Running man (Famous TV Korean Series)?” or Are you “Adrenaline Junkie”? There are only 2 choices my friends, “Adrenaline Bridge” or “Adrenaline Gondola”! Hell yeah!! Don’t forget to try special cuisine from the village (Special Lobster Package).

2.  Bukit Panguk Kediwung (Bukit means ‘Hill’)
It is famous for sunrise (it depends on the weather) but because this hill located in Pine Forest area, after sunrise you may explore another spots for your photos!
Waiting sunrise! www.dakatour.com 

3. Hutan Pinus Mangunan (Hutan means ‘Forest’)
Another area of Pine Forest! Take as many pictures as you can and show off to your social media!
https://www.lazone.id/inspiration/inspiring-place/hutan-pinus-mangunan-di-jogja-bagaikan-di-luar-negeri-3~c75392?q=aikan

4.  Hutan Pinus Asri (Bikini Bottom Spot). Are you a fan of “Spongebob Squarepants”? 

5.  Puncak Becici (Barrack Obama’s favorite forest). One of Obama Destinations in Yogyakarta!

6.  Rumah Seribu Kayu & Wisata Batu Songgo Langit. This area also good for soft trekking and has very good spots (Hobbiton Houses, Huge Lava Stones, and Windmill on the top of the hill). Prepare your stamina!

7.  Hutan Pinus Pengger  

8.  Jurang Tembelan (Jurang means ‘Cliff’)

9.  The Lost World Castle. “Great Wall of China” in Yogyakarta + Volcano? Oh yeah!!

Don’t think too much my friends, if you wanna travel to Yogyakarta, just pack and go!

Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...