Sabtu, 23 Januari 2016

Jalan-Jalan ke Brunei Darussalam (3)



7 November 2014 (Hari Kedua),

Dihari yang cerah ini,baik saya dan Halim serta Asep, mendapatkan kejutan dari Bang Lani sebagai Tuan Rumah. Kami akan dipandu jalan-jalan ke Bandar Sri Begawan, tepatnya ke Masjid Omar Ali Saifuddien. Namun sebelum itu, kami diminta mencoba makanan khas Brunei, yaitu Ambuyat alias Sagu yang direbus guys!. Setau saya, di Maluku ada makanan khas seperti Ambuyat ini, namanya Papeda, tetapi mungkin perbedaannya ada pada sambalnya kali ya? . Ambuyat harus dimakan bersama Sambal Cacah, yang merupakan campuran kaldu atau  ikan air tawar atau laut yang disuwir-suwir, cabai merah dan sedikit cabai hijau (tergantung selera), bawang merah, dan jeruk nipis, serta sedikit cuka. Rasanya? surprising!, sangat enak guys


Duh mak, sampai tulisan ini dibuat, saya masih ingat rasa Ambuyat yang plain dan sedikit kenyal, berpadu dengan asam kecut pedas dan gurih dari Sambal Cacah!. Slurup, ngiler! .Jujur, saya belum pernah makan yang beginian,  mengingat di Yogyakarta sangat sulit membelinya, atau mungkin tidak ada. Bang Lani bilang, bahwa di Brunei selain Nasi Katok, Ambuyat adalah makanan yang penting terkhusus untuk menjamu tamu. Memang, di Brunei sendiri makanan ini tidak mudah ditemui guys, tetapi bisa dipastikan hampir semua orang Brunei bisa membuatnya.   

Setelah sarapan, kami ke Masjid Omar Ali yang hanya menempuh waktu sekitar 15 menit, dari rumah keluarga Bang Lani. Masjid yang selesai dibangun pada tahun 1958 ini, menghabiskan dana  9,2 juta dolar Brunei. Uang semua itu guys. Maklum, semua materialnya mayoritas impor. Batu granitnya dari Sanghai (Cina), lampu Kristal gantungnya dari Inggris, batu marbelnya  dari Italia, dan karpetnya dari Saudi Arabia. Arsitek masjid ini adalah Cavalieri R. Nolli,  yang  menggunakan desain awal rancangan Sultan Omar Ali Saifuddien III beserta asistennya, Awang Besar Sagap. 

Tingginya?, sedikit lebih tinggi dari Candi Prambanan guys. Candi Prambanan, yang waktu tempuhnya hanya 30 menit dari Kota Yogyakarta tingginya hampir 48 meter, sedangkan Masjid Omar Ali tingginya 52 meter. Memasuki kawasan masjid ini , damai langsung terasa dihati. Segarnya udara menerpa, pepohonan rindang, dan halaman yang luas menambah keasrian kawasan ini. Memang layak, bila Masjid Omar Ali dijadikan ikon negara ini. 


Masjid Omar Ali mengingatkan saya dengan Masjid Dian Al – Mahri yang berada di Depok, Jawa Barat. Masjid Dian juga berkubah emas seperti Omar Ali. Jika Masjid Omar Ali merupakan salah satu masjid terindah di kawasan Asia Pasifik, maka Masjid Dian Al – Mahri dan kawasan sekitarnya merupakan yang termegah se Asia Tenggara, yang dapat menampung 20.000 orang. Sedangkan Masjid Istiqlal di Jakarta, meskipun kubahnya tidak berlapis emas tetapi masjid ini adalah yang terbesar se Asia Tenggara, dengan kapasitas 200.000 orang. 

Yang unik dan menarik dari Masjid Omar Ali bagi saya adalah bukan kubah emasnya, bukan kemegahannya,  melainkan  bangunan kapal yang berlokasi di selatan masjid, dan Kampong Ayer (Kampung Air) di utaranya. Bangunan kapal yang unik ini, adalah replika kapal kerajaan Brunei pada abad ke 16 Masehi guys. Adapun Kampong Ayer , disebut sebagai pemukiman Kampong Ayer yang terluas dan termodern se Asia Tenggara. Tetapi Bang Lani bilang, waktu yang tepat untuk melancong adalah pagi hari ,karena kita bisa melihat banyak aktivitas yang dilakukan oleh  warga sekitar. 

Destinasi utama Brunei yang digaungkan oleh pemerintah hanyalah Istana Nurul Iman, Masjid Omar Ali Saifuddien, Masjid Sultan Hassanal Bolkiah, Kampong Ayer, dan Taman Nasional Temburong.  Sayangnya, untuk Istana Nurul Iman dan Taman Nasional Temburong tidak sempat kami kunjungi. 

Kami tidak bisa ke Istana Sang Sultan, karena bentrok dengan jadwal “In-Line Skate Tournament 2014” .  Adapun untuk Temburong ternyata sangat jauh, dan memerlukan persiapan dana yang tidak sedikit. Maka, kami urungkan niat tersebut dengan harapan di lain masa, dapat jalan-jalan ke Brunei lagi. 

Setelah cukup lama menjelajah ,kami pulang untuk istirahat. Melakukan perjalanan, tidak selalu harus mengunjungi  banyak lokasi dalam satu hari guys. Karena saya juga seorang English Guide, saat di Candi Prambanan atau di Candi Borobudur, apabila melihat turis Jepang, saya selalu komentar usil dan bilang ke klien. 

 “Look at them, Japanese tourists” sedikit berbisik.
“Oh, I thought they are Chinese!. I don’t understand Japanese tourists, in one day they can travel to some countries in Europe. What kind of travel is that? Just taking pictures without interaction with local people?”. 

Tamu Eropa, ketika saya minta pendapat tentang prilaku wisata orang Jepang di negara mereka, jawaban mereka hampir sama. Bagi kami, traveling itu tidak hanya mengabadikan foto-foto indah dari suatu destinasi, tetapi interaksi dan bergaul dengan orang lokal, merupakan cara yang nikmat dalam melancong. Ya gak guys?. Bisa dikatakan, saya sepaham dengan Trinity – The Naked Traveler. He he. 

Sepanjang perjalanan pada hari itu, saya mengamati rumah-rumah di Brunei,  bagus-bagus friends. Mayoritas warga Brunei memang berada guys, rumahnya besar dan bertingkat, serta punya mobil minimal 1 (rata – rata punya 2). Harga mobil disini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan di Indonesia guys, hanya lebih mahal sedikit. Saya amati, orang  Brunei memang sangat disejahterakan oleh Sultan mereka. 

 Sultan Hassanal Bolkiah sangat perduli terhadap warganya, seperti akses pendidikan dan kesehatan yang gratis, serta pengarahan terhadap pekerjaan yang cocok dengan minat dan bakat warganya. Tetapi mayoritas, banyak yang bekerja di sektor industri perminyakan guys (ya eyalahh). Tapi guys, gratisnya itu loh! (tanpa ada syarat dan ketentuan berlaku). Aahhhhh! Mupeng!! . Pindah ke Brunei yuk? he he. Saya pun usil bertanya,  “Bagaimana kalau kaum imigran ingin memanfaatkan fasilitas-fasilitas dari negara dengan cara menikahi warga Brunei, Bang?”. 

Gak bisa bro, gak semudah itu. Disini banyak imigran dari berbagai negara. Seandainya para imigran menikah dengan orang sini, perlakuannya berbeda bro. KTP juga berbeda bro” Bang Lani menjelaskan dengan logat Bahasa Indonesia. Maklum guys, Bang Lani sering bergaul dengan orang kita, selain itu entah mengapa, sejauh pengamatan saya, orang Brunei kalau berbicara bahasa Melayu lebih enak didengar untuk pengucapannya dibanding orang Malaysia. Ya, seperti Fakhrul Razi (salah satu komentator Dangdut Academy Asia) itulah friends. This is just my personal opinion

Sejauh pengamatan saya, mereka kurang suka dicampur-campur dalam bertutur kata. Di Malaysia, ada Bahasa Rojak (you know what I mean), tetapi tidak di Brunei guys. Mereka tau bahasa itu eksis di Malaysia, mereka pun bisa kalau mau,   tetapi mereka cenderung enggan guys. Menurut saya, orang Brunei memiliki kebanggaan dalam berbahasa daerah. Selama ini yang saya tau, orang Brunei berbicara bahasa Melayu sebagai bahasa ibu atau istilahnya mother tongue , tetapi ternyata saya salah. Di Brunei ada empat distrik yaitu Brunei Muara, Temburong, Tutong, dan Belait. Setiap distrik memiliki bahasa daerah masing-masing, dan Bahasa Melayu adalah bahasa persatuan mereka.

(bersambung)



Kamis, 14 Januari 2016

Hikmah Bertemu Trinity "The Naked Traveler” di Candi Prambanan



Sebagai seorang pemandu wisata khusus asing (kadang-kadang melayani domestik juga), saya pernah melayani beberapa klien yang di Eropa sono, sangat terkenal. Sebut saja Boss Jaguar, Boss perusahaan kaca asal Belanda, dan salah satu Boss Google dari Switzerland (Swiss). Diantara mereka ada yang ramah, ada juga yang menyebalkan. Tetapi , entah mengapa selama membawa tamu domestik, saya belum pernah mengalami kejadian serupa. Padahal kan pingin. 

 Kayaknya asyik gitu lho, bisa jadi cerita tersendiri. Teman baik saya pernah membawa Aming yang katanya nice dan baik, sedangkan teman-teman yang lain pernah juga membawa beberapa artis ibu kota dengan segala suka-dukanya. He he. Bisa dimengerti, sangat jarang artis menggunakan jasa pemandu wisata. 

Mayoritas cukup rental mobil + sopir, atau menghubungi teman yang tinggal di Jogja, lalu berharap si sopir atau si teman ini bisa menjelaskan banyak hal. Kalau soal tempat makan dan minum enak, memang mereka bisa sih apalgi jaman internet kayak sekarang. Akan tetapi bila berkaitan dengan sejarah dan menjelaskan destinasi – destinasi wisata penting seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, Kraton dan Tamansari, itulah tugas pemandu. Yah, walaupun belum pernah membawa artis atau orang terkenal dalam negeri, saya ada pengalaman berkesan bertemu dengan salah seorang artis yang sekaligus idola saya, ketika melakukan pekerjaan sebagai pemandu. 

Bertemu idola itu menyenangkan, bagi siapapun. Apalagi jika kita berpapasan dengan idola saat traveling, itu berkah  takdir guys. Soalnya saya tidak percaya dengan yang namanya kebetulan. Selalu ada maksud dari Tuhan mengapa kita dipertemukan dengan si ini, ataupun si itu. Kayak pendakwah saja ya? He he.
 
Bahkan ketika masih kuliah, apabila ada suatu seminar yang pembicaranya  juga termasuk idola saya, saya selalu antusias. Lebih keren lagi jika si pembicara ramah, dan mau diajak foto bersama. Bangga dan senang rasanya. Tetapi yang paling penting menurut saya, kita bisa memetik sesuatu yang bermanfaat dari ide-ide atau visi yang mereka sampaikan. 

Semisal Ahmad Tohari, ketika berkisah bahwasanya dahulu,  ternyata dia adalah orang yang kesulitan  menuangkan gagasan atau konsep dalam suatu bentuk tulisan, apakah itu artikel, cerita pendek, puisi maupun novel. Seorang Ahmad Tohari guys,  yang sudah menelurkan karya masterpiece seperti Ronggeng Dukuh Paruk alias Sang Penari ternyata dulunya seperti itu. 

Dengan sangat yakin beliau berkata “setiap orang bisa menulis, tetapi untuk menjadi penulis handal, kita harus banyak berlatih dan setiap orang memiliki proses yang berbeda”. Memang ajib bener deh!. Pernyataannya seperti yang dinarasikan oleh Chef Gustav di film Rattatouile-nya Dreamworks. Bedanya, kalau difilm ini tentang memasak, dan Chef Gustav percaya bahwa “everyone can cook”. Inspiratif! 

Berbicara tentang inspiratif, sama halnya ketika Trinity "The Naked Traveler” datang ke Yogyakarta,  saat Book Fair di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama pada tahun 2013 silam , merupakan sosok yang inspiratif. Trinity adalah idola bagi remaja atau siapapun yang suka jalan-jalan, dan karena buku-buku karyanya itulah banyak mengubah cara pandang saya tentang traveling. Membuat saya lebih berani dalam mengambil langkah kedepan. Dan syukurlah, Trinity juga orangnya ramah dan mau diajak foto bersama. He he.

Siapa sangka, saya bertemu lagi dengan Trinity dengan cara unexpected. Saya masih ingat betul, saat itu sore hari tanggal 8 Oktober 2015. Pada hari itu, jadwal saya bersama tamu cukup padat. Pagi hingga siang hari saya membawa tamu ke Museum Sonobudoyo, Kraton, dan Tamansari hingga masjid bawah tanah,kemudian dilanjutkan ke Candi Prambanan sebagai pamungkasnya sambil menanti sunset dari angle tertentu.  

Sedang asyik-asyiknya saya menjelaskan kepada tamu, tentang Kisah Ramayana dan beberapa relief Dewa Lokapala di Candi Syiwa (Prambanan), saya melihat wajah yang tidak asing. 

“Mbak Trinity?” sapa saya. Trinity sedikit kaget melihat saya, mungkin dikiranya di Prambanan tidak ada yang mengenalinya. “Iya” jawabnya pendek. Langsung saja saya kenalkan ke Andrea Holetzki dan Raphael Leiteritz. Jujur, saya lupa nama asli Trinity. Saya hanya ingat nama belakangnya, Hutagaol. 

This is Trinity, the most popular traveling writer in Indonesia” semangat dan sumringah karena  bisa berpapasan langsung. “Mbak Trinity, this is my clients from Zurich”. 

“Oh, Switzerland!” kata Trinity. Dan, seperti kebiasaan orang Indonesia pada umumnya, khususnya saya, maka saya minta Trinity untuk foto bersama dengan tamu saya. Sama saya juga laahh. Masak kesempatan langka begini tidak dimanfaatkan. He he. Setelah berbasa-basi, kami berpamitan. Trinity melanjutkan jalan-jalannya di Prambanan. Saya pun demikian. Saat berpamitan, saya bilang begini. 

“Saya mau kasihkan buku mbak yang edisi bahasa Inggris ke tamu saya untuk oleh-oleh”. Dan, itu benar-benar saya lakukan pada hari berikutnya. Ketika saya dan tamu sampai di Hotel Tugu (Malang) , setelah check in , buku Trinity saya berikan. 

“This is the book I’ve told you yesterday. I am so proud could give this book to you, Andrea and Raphael” semangat 45. Sontak saja, mereka kaget sekaligus senang. Karena setelah pertemuan dengan Trinity, saya gencar melakukan promosi ke mereka. Di Malang , ada free day 1 hari. Jadi, saya pikir pasti mereka punya banyak waktu luang untuk bersantai, minum kopi atau teh sambil membaca buku.  Eh, apa yang saya perkiraan menjadi kenyataan. 


Keesokan harinya jam 10.20 WIB, Raphael mengirim foto via Facebook , Andrea lagi asyik membaca Trinity-The Naked Traveler “Across The Indonesian Archipelago” sambil tersenyum. Raphael bilang, Andrea sangat suka bukunya dan dia ketawa-tawa sendiri. Bukunya sangat informatif, jujur, dan menghibur. Sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih. Lalu, saya balas pesannya. 

“My pleasure, Raphael. I am so glad can introduce you many things about Indonesia” 

Ini adalah kedua kalinya,  saya memberikan buku Trinity ke klien. Pertama kali saya berikan kepada Mr. Siah, Big Boss perusahan kontraktor asal Singapura. Tamu ini juga sangat berkesan. Setelah 3 hari berwisata di Yogyakarta bersama rombongannya,  saya berikan buku Trinity dengan harapan,  dia dan grup nya datang lagi ke Indonesia untuk berwisata ditempat yang lain. 

“This book for you sir, I hope you come back again to my country for other destinations. It doesn’t matter with me or not” percaya diri. Dan, selepas Mr.Siah beserta rombongannya ke Jogja, beberapa bulan kemudian mereka ke Indonesia lagi guys, tepatnya ke Bali. 

Kembali ke Andrea dan Raphael. Setelah mereka pulang ke Zurich, dan selesai membaca buku Trinity, mereka ingin kembali lagi ke Indonesia untuk berwisata di pulau-pulau yang lain. Sebagai pemandu, saya sukses. Gara-gara buku Trinity, mereka ingin tahu lebih dalam segala hal tentang Indonesia, kemudian mereka membeli dua buku baru lagi yaitu tentang Gunung Krakatau dan Jamu. Teruslah berkarya Trinity. Dan teruslah dicetak untuk edisi bahasa Inggris-nya. Itu penting banget untuk promosi. Trust me, It works!.


Kamis, 07 Januari 2016

Jalan - Jalan ke Brunei Darussalam (2)


            Tanggal 6 November 2014, kamipun berangkat dari Bandung (Bandara  Husein Sastranegara) menggunakan maskapai penerbangan Air Asia menuju Kuala Lumpur terlebih dahulu, lalu ke Bandar Seri Begawan. Air Asia adalah pilihan terbaik saat itu, mengingat Royal Brunei Airlines sangatlah mahal bagi saya. Saat itu tiket Royal Brunei untuk sekali berangkat IDR 4000.000, sedangkan Air Asia setengahnya, sudah pulang – pergi . Nah lho, gimana kagak ngiler coba?.  

 Nantilah kalau sudah menjadi orang kaya, sekali – kali bolehlah naik Royal Brunei. Karena saya yakin,  sensasi naik maskapai penerbangan milik Sultan Hassanal Bolkiah, itu pastilah berbeda rasanya dibandingkan dengan yang lain . Bagi saya pribadi, perjalanan ini adalah pengalaman yang sangat berkesan, sesuatu yang wah,  karena merupakan pengalaman pertama saya keluar negeri. Tidak apa – apalah kalau dibilang katrok (kampungan). Emang kenyataannya begitu. Saya ini kan memang orang kampung. He he.  

Akhirnya sampailah kami di Bandar Seri Begawan. Kamipun celingak – celinguk . Eh, ini Bandara kok sepi  sekali ya?. Olala, ternyata yang mendarat pada saat itu  hanya dua maskapai guys, Royal Brunei dan Air Asia. Memang sih, Brunei bukanlah seperti Bali atau Yogyakarta,  yang jam penerbangannya selalu sibuk dan banyak turis domestik, Asia, atau Eropa.

 Selain itu, memang populasi Brunei tidaklah banyak sehingga hal ini pun dapat dipahami. Tetapi, ya ampun lengang banget!. Walaupun demikian kami suka, karena serasa sangat ekslusif. Karena yang dari Indonesia ke Brunei hanya kami bertiga. Ini baru mantap!. Ke Malaysia dan Thailand mah orang Indonesia sudah biasa, tapi ke Brunei? He he.  

Uniknya bandara ini kawan-kawan, huruf Arab Gundul atau orang Brunei menyebutnya Arab Jawi, bertebaran dimana-mana. Serasa kayak di Arab Saudi nih. Kalau bahasa Melayu-nya,  ya kami masih memahami lah, lagipula Bahasa Indonesia itu kan “a new form of Malay”, pastinya banyak persamaan khususnya dalam perbendaharaan kata.


 Arab Jawi ini mengingatkan saya dengan sistem pendidikan pesantren yang banyak diterapkan di wilayah Provinsi Jawa Timur. Para santri (baca:murid) , banyak yang diajarkan bagaimana cara membaca Arab Gundul. Bahkan,  kakek saya memiliki kitabnya. Saya juga pernah mempelajarinya, dulu sewaktu remaja, meskipun tidak setingkat master

So of course, saya  tidak mengalami sensasi seperti yang dirasakan oleh Scarlet Johanson difilm Lost in Translation (2003) yang ber setting di Tokyo. Scarlet datang kesuatu negara yang orangnya, bahasa, dan hurufnya totally different

Bisa dibayangkan, huruf Cina Mandarin alias Kanji bergabung menjadi satu dengan huruf Hiragana dan Katakana. Itu bagi saya, ruwetnya bagaikan pertemuan antara benang wol, benang jahit, dan benang nilon. Ciamik lah ruwetnya! . Mungkin lebih parah daripada ruwet dan macetnya Jakarta. He he. Mulai hiperbola nih

Adapun untuk orang Melayu Brunei dengan Melayu Malaysia, atau Melayu Sumatera (Riau, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan,Bengkulu) sangatlah mirip. Kebetulan, saya dibesarkan di Sumatera Selatan yang terkenal akan Sungai Musi Rawas dan Pempek Palembang nya. Sehingga, ketika mengamati warga Brunei secara umum saya jadi ingat teman-teman saya disana. Ya, namanya juga negara serumpun dan serantau. Ya gak friends?. Din Syamsudin, ketua organisasi Muhammadiyah  juga mengatakan hal yang sama lho

Tetapi sejauh pengamatan saya selama hampir 6 hari di Brunei, kaum bangsawan Brunei alias darah biru memiliki perbedaan dalam hal  physical appearance . Mereka memiliki warna mata cokelat keabu-abuan, beralis cukup lebat dan tegas,  berkulit bersih kuning langsat ,good looking untuk para lelakinya, dan rata – rata cantik untuk para perempuannya.

 Adapun persamaan mereka dengan kaum biasa  adalah tinggi badan, antara 155 – 160 cm baik laki-laki maupun perempuan. Rata-rata warga Brunei memang pendek guys. Of course tidak semuanya lah,  selalu ada pengecualian bukan?. Kami beruntung, karena Bang Lani (rekan Halim), mempersilahkan kami tinggal dan mengamati, serta berinteraksi dengan keluarga besarnya. Juga, diperkenalkan kepada saudara-saudara dan kawan-kawannya. What an amazing hospitality. Entah kapan, saya bisa menebus budi baik ini.

By the way guys, ada kisah cukup menegangkan selama pengecekan barang di tempat imigrasi, yang saya dan Halim sadari ketika sampai dirumah Bang Lani. Asep kawan kami, terbilang berani. Bagaimana tidak, dia menyelipkan rokok Mallboro berjumlah lumayan ditas besarnya, dan berhasil lolos. Padahal jika ketahuan, urusannya cukup ribet, dan pajaknya tidaklah murah. Pihak imigrasi pun untungnya percaya-percaya saja. 

“Ini ape yang ada didalam luggage awda (anda)?” kata pihak imigrasi. “Oh, ini T-Shirt untuk kawan” kata Asep santai. “Tak ade yang nak di claim ?” ujarnya lagi. “Tak” jawabnya  lempeng. Dan, voila!. Berhasil saudara-saudara!. Hari itu adalah hari bejo untuk Asep.

Saya memang tidak tau, berapa harga bea cukai yang harus dibayar per bungkusnya, tetapi jika kalian merokok tidak pada tempatnya , dan otoritas mengetahui misalnya, lalu menangkap  kalian, maka dendanya adalah BND 300 atau sekitar hampir IDR 3000.000. Ya,  itulah aturannya. Walaupun kenyataannya, saya tidak tau pasti, teknis pelaksanaannya seperti apa. 

Denda yang mahal, meskipun katanya di Singapura lebih mahal. Bahagialah warga negara Indonesia, karena dinegara kita, cenderung bebas boleh merokok dibanyak lokasi.  Tetapi, kalau saya pribadi  sudah lama berhenti merokok guys. Kalau paru-paru kalian tidak kuat ,mungkin sebaiknya jangan merokok ya friends?.  Dengan semangatnya Asep bercerita, hingga akhirnya kami semua tertegun sejenak,  dan tertawa bersama-sama. Semoga dengan kejadian ini, pihak otoritas Brunei lebih ketat memeriksa. He he. 

Di Brunei, memang tidak mudah mencari transportasi umum, karena warganya mayoritas memiliki mobil pribadi, dan adapun taksi hanya tersedia di bandara, tetapi harganya tidaklah murah. Jika ingin naik bis umum, kita harus menunggu 1 jam – an di halte yang tersedia. Adapun jalan rayanya, mulus moncer guys!. Lebar, dan yang terpenting tidak macet. Walaupun weekend atau jam pulang kerja,jalan raya tetap normal.

Kalau di Yogyakarta, khususnya akhir pekan, terlebih lagi bila long weekend, ampuunnn!. Tidak percaya? Silahkan coba. Saya saja lebih memilih istirahat dirumah, bahkan Pak Sultan dan Pak Wali Kota Haryadi Suyuti saja pernah menghimbau,  agar warga Jogja mengalah demi wisatawan yang datang. Sekarang ini di Indonesia, bukan hanya Bali yang ramai friends, Jogja juga tidak kalah ramainya dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Hari pertama menginjakkan kaki di Brunei sungguh sangat berkesan. Setelah berkenalan dengan keluarga besar Bang Lani, kami makan Nasi Katok bersama-sama. Ternyata untuk soal kuliner, masih ada 1 jenis makanan yang harganya terjangkau yaitu Nasi Katok, seharga 1 Ringgit atau BND 1 (hampir Rp.10.000).


Awas!, jangan salah ucap ya guys. Bukan Nasi Katrok lho ya?. Nasi Katok adalah nasi bungkus berukuran sedang dengan lauk ayam lokal Brunei yang cukup besar, dan campuran sambal hijau+merah yang mantap. Rasanya enak, cukup pedas, dan mengenyangkan. Lalu  kamipun istirahat , mencoba terlelap diruang tamu yang luas, dan AC yang sejuk. Saya pun membayangkan, kejutan apa lagi ya untuk besok.  

bersambung

Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...