Selasa, 03 April 2018

The Grand Palace of Thailand (Brief Description)


 I am so interested with any kind of palaces on this planet. In Yogyakarta (my city) has a Sultan Palace aka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat and the function is the same like in Istana Nurul Iman, the palace for Sultan of Brunei. Because I live in the city of heritages, for me visiting The Grand Palace in Bangkok is a must. It is my top priority when traveling to Thailand. And, this is my story around 2 years ago…
 Bangkok was so hot and humid at that time! (walking to the main area)
I remembered at 14th March, Sofyan Yudianto (my traveling partner) and I went to The Grand Palace with Yan Zein (our Filipino friend who works in Bangkok) by taxy. She spoke English, Tagalog, Cebuano, a little bit Spanish, and Thai. Wow, that was something you know. She was really helpful and we were very lucky! 
 The main area of the grand palace
The Grand Palace adalah komplek istana Raja Thailand yang dibangun oleh Raja Rama I pada tahun 1782 (kalau Kraton Yogyakarta tahun 1755) dengan konsep “Mandala” seperti Candi Borobudur yang memiliki 4 pintu atau gerbang,  dan dikelilingi tembok seperti Candi Prambanan di Yogyakarta atau Komplek Angkor Wat di Kamboja. Panjang temboknya 1900 meter dan luas Istana ini adalah 218.000 meter persegi!
 Buddhist monks walking to the main entrance
Istana yang besar sekali! Sangat besar dan luas! “bonito y espektakular”! Mengagumkan! Nah, mulai lebay deh. But seriously, it was super cool palace! Istana ini tidak hanya merupakan tempat tinggal Raja – Raja Thailand terdahulu tetapi juga merupakan pusat administrasi dan juga biara bagi keluarga kerajaan. Intinya, istana yang lengkap! “The Grand Palace” dibagi menjadi 9 area yang total banguanan-nya ada 35! Banyak sekali yaa…
And, allow me to describe generally about the whole parts of the palace for you, my readers! 

1. The Royal Monastery of the Emerald Buddha
Bangunan ini mencolok karena atapnya yang berwarna biru tua berpadu dengan warna oranye – keemasan dan dekat dengan “ticketing area”, membuat biara ini menjadi tujuan pertama bagi turis (tetapi kebanyakan turis tidak tau). Karena banyak sekali turis dari Tiongkok, saya hanya menikmati dari luar saja. Sesuai namanya, didalam bangunan ada Arca Buddha yang dibuat dari bongkahan besar zamrud hijau alias “green emerald” yang indah.

Buddha Rupang ini bergaya Northern Thai (patung Buddha itu memiliki banyak “style” tergantung seninya) yang ditemukan pertama kali di Chiang Rai (saya sudah kesini juga), pada tahun 1434. Karena ini biara, tentu saja banyak yang masuk untuk berdoa, melantunkan Puja, atau hanya sekedar “respect”.
2. The Upper Terrace
 Taken by Sofyan Yudianto
Teras ini terletak persis didepan Biara Zamrud Hijau dan merupakan gabungan dari 4 bangunan yaitu Phra Siratana Chedi (The Golden Chedi), Phra Mondop , Prasat Phra Dhepbidorn alias “The Royal Pantheon”, dan model bangunan Angkor Wat (dibuat oleh Raja Rama IV). Ya sebagai seorang pramuwisata saya harus tau guys. Who knows saya dapat kesempatan bawa turis Indonesia jalan-jalan ke Bangkok. 
Taken by Sofyan Yudianto
Phra Mondop adalah bangunan khusus untuk teks Buddhis diatas daun palem yang dikeramatkan. 

3. Subsidiary Buildings
Nah, dibelakang “The Upper Terrace” ada 3 bangunan yaitu. Hor Phra Monthian Dharma alias perpustakaan , Phra Wiharn Yod alias Wihara, dan Hor Phra Naga alias bangunan suci untuk abu-abu dari jasad keluarga kerajaan (berani mengunjunginya?).

4. The Galleries
 Hanoman or Hanuman versi Thai
Yup, galeri ini sangat mudah dilihat. Dari “Ticketing Area”, kalian belok kiri maka terpampanglah lukisan indah didinding bagian dalam dan berwarna cantik. Tentunya galeri lukisan ini ada kisah-kisahnya. Lukisan dinding ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Rama I dan membacanya dimulai dari belakang Phra Wiharn Yod. Tidak berurutan juga tidak apa-apa kok! 
Kisahnya sama dengan relief-relief di Candi Brahma dan di Candi Siwa, Prambanan. Ya, kisah yang familiar yaitu Ramayana! Jeng, jeng, jeng!  Hanya nama Rahwana-nya versi Thailand (Thotsakan), Kumbakarna-nya menjadi Kumpakan, Indrajit nama Thai-nya Indrasit, Alengka menjadi Longka. Sungguh menarik! Thailand (dulu: Siam) itu kerajaan ber-asaskan ajaran Buddha tetapi nampaknya kisah Ramayana disukai oleh Raja Rama I.  

5. The Phra Maha Monthian Group
Lokasinya adalah disebelah kanan dari “Ticketing Area”. Mayoritas turis terjebak di komplek utama dan kemudian langsung ke pintu keluar. Padahal kalau mau jeli membaca peta, kita bisa ke Phra Maha Monthian yang terdiri atas 3 bangunan yaitu Amarinda Winitchai Hall, Paisan Taksin Hall, dan Chakraphat Phiman Hall. Menariknya, warna atapnya hijau berpadu dengan warna oranye – keemasan.
Amarinda Winitchai adalah gedung untuk upacara-upacara kerajaan dan dibangun pada tahun 1785 oleh Raja Rama I. Adapun Paisal Taksin adalah gedung untuk penobatan para Raja Thailand. Kemudian Chakraphat Phiman adalah tempat kediaman Raja Rama I-III. Jalan-jalan dari area 1-5 ini kita memerlukan waktu hampir 3 jam!
6. The Cakhri Group

Bangunan spesial yang didanai oleh Raja Rama V alias Chulalangkorn, Raja Thailand yang pernah bertandang ke Jawa Tengah dan berhasil membawa banyak patung Buddha, ornament Kala, serta panel-panel relief dari Candi Borobudur. Chakri Maha Prasat adalah nama lengkap bangunan ini dan proyeknya selesai pada tahun 1882.
Selain sebagai singgasana raja, juga menyimpan berbagai galeri seni dan juga untuk menerima para duta besar asing.

7. The Dusit Group
Terdiri dari 3 bangunan (Dusit Maha Prasat, Rajkaranyasapha, dan Aphorn Phimok), tetapi tidak sebesar The Cakhri Group. The Dusit dibangun oleh Raja Rama I sebagai tempat untuk bersantai bagi Raja dan keluarga kerajaan. Memang, ada kebun yang indah diantara The Dusit Group dan The Phra Maha Monthian Group. Tempat bersantai yang memang menyenangkan.

8. The Borom Phiman Mansion
Bangunan baru ini dibangun oleh Raja Rama V alias Chulalangkorn pada tahun 1903. Rumah besar ini memang dibangun untuk anak-nya yang kemudian menjadi Raja Rama VI – Raja Rama IX. Saat ini fungsinya untuk menjamu para tamu VVIP dari negara-negara asing.

9. Queen Sirikit Museum of Textiles
Ratu Sirikit memiliki perhatian khusus terhadap tekstil khususnya dari Thailand. Tetapi museum ini juga memiliki koleksi tekstil dari berbagai negara di Asia Tenggara, Timur, maupun Selatan. Museum ini sangat mudah dikunjungi karena setiap turis pasti melewati-nya sebelum membeli tiket The Grand Palace. Museum ini merupakan Bangunan lama yang direnovasi pada tahun 2003, dan dibuka untuk umum pada tahun 2012. 
 Sempat mengobrol sebentar dengan adik-adik mahasiswi yang menunggu di pintu keluar
Kalian bisa seharian menikmati segala fasilitas di The Grand Palace alias Wat Phra Kaew, tidak termasuk Wat Pho dan Wat Arun. Dan, saya pribadi menyarankan tidak mengunjungi 3 Wat ini dalam 1 hari. So, selamat jalan-jalan dan semoga informasinya bermanfaat!
One ticket for some famous destinations. Very worth it!
Special thanks to :
1. Sofyan Yudianto, the owner of www.javaadventuretrail.com for the amazing pictures.
2. Janzynn MAy https://www.instagram.com/makeupbyjanzynn/  for your help

Follow me on Instagram https://www.instagram.com/yoga.efendi/ 
Follow my YouTube Channel : yojalan-jalandab or click the link below https://www.youtube.com/channel/UCbKX0rDkrP_0f7xiiBse5yw 

Sabtu, 24 Maret 2018

Wow! Good News from Yogyakarta (You Must Know!)


Barrack Obama in Prambanan Temple - Yogyakarta (www.lifestyle.okezone.com)
I live in Yogyakarta. My residence is about 15 km from the volcano but I never afraid of it. Why? You know, volcano is a part of Javanese people’s life, a part of our soul, a part of our philosophy, a part of our family, and so on. Many foreigners miss understand about us who live on this island (Yava or Java or Jawa). Javanese and Balinese have similarity about volcano. We respect volcano as a part of mother earth and as long as you understand the characters of the volcano, everything’s gonna be all right.
 Merapi view point from The Lost World Castle (new destination in Yogyakarta) www.yojalan-jalandab.blogspot.co.id 
Living on the Island of Java must understand the consequences. Volcano is “giving” life and fertility, and also “taking” life sometimes. It is all right. This is how nature works for balancing the planet especially the island of Java. For example Merapi, there are some famous tours after eruption in 2010 such as Merapi Volcano Tour, Bukit Klangon, The Lost World Castle, and Merapi World of Landmarks. Tourism was increasing in Yogyakarta especially in Mount Merapi since few years ago. Of course, as a guide from here I am so happy.

Yogyakarta got a new award by Tropicalife Magazine (WWW.TROPICALIFE.NET ) last year as one of the “5 best culture and heritage destinations in Southeast Asia”. Number 1 is Bali Island (Indonesia), Number 2 is Yogyakarta (Java Island – Indonesia), and then Siem Riep (Cambodia), Luang Prabhang (Lao), and Hanoi (Vietnam). Wow! I am so happy and then more tourists were coming to Yogyakarta until now. I am happy again. 
  Barrack Obama in Borobudur (2017), the Largest Buddhist Temple in the World (www.viva.co.id)
I remember an old article at 5th September in 2014 that is written by “The New York Times” journalist about Yogyakarta. The title was “52 Places to go in 2014” and Yogyakarta got number 20! Here we go:
Borobudur, UNESCO World Heritage Site (www.kata.co.id )
20. Yogyakarta, Indonesia
“A volcano, a temple, a shrine and now a place to stay”
This central Java sultanate draws crowds for its proximity to be witching attractions: the monumental, wedding cake-esque Buddhist temple Borobudur, the soft-serve-ice-cream-shaped Hindu shrines of  Prambanan, and pre-sunrise hikes to summit Indonesia’s friskiest volcano, Mount Merapi. But finding a decent room has never been easy, until now. Thanks to tax breaks for hotel development, 20 new starred hotels, to complement the city’s existing 30, will open through 2015. Among them are Zest Hotel ( a Swiss – Belhotel brand) at the end of 2014 and, according to a director of the Tourism Promotion Agency of Yogyakarta, three new properties from Accor, whose brands include Sofitel and Ibis. – Sanjay Surana.
 Barrack Obama in Prambanan (2017), the largest ancient 9th Century Hindu Compounds in Indonesia (www.lifestyle.okezone.com)
And you know, accommodation is NOT a problem anymore here! You may come to Yogyakarta as a budget traveler, luxury traveler, group, and so on. Borobudur – Prambanan – Merapi Volcano Tour – Kraton – Tamansari are classic tours here but Yogyakarta also has new destinations. Thank you for Mr. Barrack Obama who visited Yogyakarta last year. Because of him, Puncak Becici (one of Pine Forest areas) was becoming very popular destination among locals and Asian tourists. 
The list below is famous new destinations in Yogyakarta. Check it out! 
1. Pantai Timang “Adrenaline Gondola”.
Wanna be like “Running man (Famous TV Korean Series)?” or Are you “Adrenaline Junkie”? There are only 2 choices my friends, “Adrenaline Bridge” or “Adrenaline Gondola”! Hell yeah!! Don’t forget to try special cuisine from the village (Special Lobster Package).

2.  Bukit Panguk Kediwung (Bukit means ‘Hill’)
It is famous for sunrise (it depends on the weather) but because this hill located in Pine Forest area, after sunrise you may explore another spots for your photos!
Waiting sunrise! www.dakatour.com 

3. Hutan Pinus Mangunan (Hutan means ‘Forest’)
Another area of Pine Forest! Take as many pictures as you can and show off to your social media!
https://www.lazone.id/inspiration/inspiring-place/hutan-pinus-mangunan-di-jogja-bagaikan-di-luar-negeri-3~c75392?q=aikan

4.  Hutan Pinus Asri (Bikini Bottom Spot). Are you a fan of “Spongebob Squarepants”? 

5.  Puncak Becici (Barrack Obama’s favorite forest). One of Obama Destinations in Yogyakarta!

6.  Rumah Seribu Kayu & Wisata Batu Songgo Langit. This area also good for soft trekking and has very good spots (Hobbiton Houses, Huge Lava Stones, and Windmill on the top of the hill). Prepare your stamina!

7.  Hutan Pinus Pengger  

8.  Jurang Tembelan (Jurang means ‘Cliff’)

9.  The Lost World Castle. “Great Wall of China” in Yogyakarta + Volcano? Oh yeah!!

Don’t think too much my friends, if you wanna travel to Yogyakarta, just pack and go!

Jumat, 02 Maret 2018

JALAN-JALAN KE CHIANG MAI (A Travel Note)


       "Wai" in Wat Phra That Doi Suthep, Chiang Mai - Thailand (Taken by Sofyan Yudianto)

A friend of mine, Halim Karnadi is traveling to Chiang Mai today. Suddenly, I remembered my journey 2 years ago in Chiang Mai too with Sofyan Yudianto, my best friend from Banyuwangi – East Java. Ah, Chiang Mai…you know, even until now I never forgot all the experiences in this unique city. Here, I’ve felt the true smiling of Thai people. Bangkok for me too crowded but here was more relax, slower life, and had many coffee cafes. What a lovely place to explore guys! Life is traveling my friends, life is journey, and you may choose what kind of destinations you love. 
Buddha Rupam (Chiang Mai Style), taken by Sofyan Yudianto

I believe if there are no coincidences in this world. All things in this universe are connecting each other especially all creatures on this planet that we called Earth. Not only human being but also dogs, horses, cows, tigers, fishes, and even insects, trees, grasses, bushes, and any kind of plants have connections. The Source of Life is connecting all of us. And, all cycles for human being are a part of Law of Natures. This is consequences living as a human. To increase our awareness about life, there is one method that I love called “traveling”. 
 Chiang Mai is known as a Kingdom of Tiger
Chiang Mai adalah kota terbesar kedua di Thailand dan memang belum sepopuler Bangkok atau Phuket. Phuket itu seperti Pulau Bali –nya Indonesia, Bangkok ya seperti Jakarta, dan Chiang Mai itu lebih mirip seperti Yogyakarta. Banyak kemiripan dari sisi historis, kerajaan masa lampau, keramah-tamahan orang-orangnya, seni dan budaya yang masih banyak terjaga, perlawanan terhadap penjajahan asing sehingga tidaklah mengherankan antara Yogyakarta dan Chiang Mai terjalin hubungan khusus yang disebut “Sister City”. Bukan dengan Kota Solo lho ya? No offense my friends from Solo but this is the fact! 
Yogyakarta and Chiang Mai are "Sister City"
 
Bisa-bisanya kontributor sekelas Majalah Destinasi Asia (Cover-nya Sandy Aulia) menulis hal yang keliru soal ini. Dimana itu sisi obyektif-nya? Opini pribadi yang gak berdasar dari nara sumber dijadikan referensi tulisan. Tapi ya sudahlah, gak penting untuk dibahas. 

Sebagai warga Yogyakarta, sungguh nista diri ini kalau jalan-jalan ke Thailand tetapi tidak mampir ke Chiang Mai. Apalagi, Chiang Mai memiliki seni dan budaya sendiri yang unik serta berbeda dengan yang lainnya. Seni dan Budaya Lanna yang bersumber dari Kerajaan Lanna dimasa silam tetapi masih terjaga tradisi-tradisinya hingga kini. 
Very comfortable Bus!  

Saya dan Sofyan ke Chiang Mai menggunakan Bus malam dari Bangkok (Perusahaan Sombat) dan kami ambil kelas VIP. Gila! Terasa seperti naik pesawat kelas bisnis! Space kaki yang cukup luas, ada TV LCD kecil disetiap tempat duduk (ada banyak koleksi film-film juga), selimut, AC yang dingin (Brrrr), minuman susu kedelai (merk Yeo), wafer, snacks, roti, dan seat-nya yang empuk. 

Well, dalam hal ini Indonesia lewat! Thailand has much better services and facilities for Bus. I am sorry Indonesia! You should learn more. Sebenarnya kami ngantuk berat tetapi eh ada film Thailand bagus, Heart Attack. Ya sudahlah, nonton juga sampai selesai dan kemudian terhanyut oleh mimpi masing-masing. 
 Situation inside of our bus!
Memori yang tidak terlupakan di Chiang Mai adalah karena kami dijamu oleh seorang kawan yang notabene pernah saya servis saat liburan ke Jogja pada tahun 2014 awal. Rombongan dari Rajamangala University Tecnology of Lanna. Salah satunya akrab dengan saya, namanya Nueng Nathibayapthis yang sekarang menjadi Kopi Barista Nasional di Thailand. 
Nathibayapthis Family also has business in Design and Construction (http://www.nathibayapthis.com/)
 
Seorang Kopi Barista muda dan memiliki usaha Coffee Café sendiri, Hohm Café (https://www.facebook.com/hohmcafe/ ). Dua tahun yang lalu, dia bilang ingin membuat usaha café – nya terkenal. Saya mengamati sendiri selama dua tahun terakhir betapa gigihnya dia berjuang melalui Facebook. Luar biasa! I am so proud of you Khun Nueng!

A Famous Coffee Cafe (Hohm Cafe) in Chiang Mai where belong to Nathibayapthis Family 
 
Khun Nueng Nathibayapthis dan keluarga menjamu kami direstoran dan mencoba makanan khas Lanna. Mengantarkan kami ke Wat Ched Yod, keliling kota lama Chiang Mai, dan bercerita soal menjamurnya turis dari Tiongkok (China Mainland). 
Chiang Mai Coffee from Hohm Cafe (Owner Khun Nueng Nathibayapthis)
Tentu saja, saya dan Sofyan mencoba berbagai macam kopi dari Chiang Mai di Hohm Café. Mulai dari yang rasanya dominan asam dan sedikit pahit, pahit tanpa asam sama sekali, dominan pahit dan sedikit asam, dll. Wow! We were drunk of Chiang Mai coffee at that time!. What a wonderful experiences. Juga, dapat souvenir dari kawan yang lain, Khun Taa. 
  Sofyan, Me, and Nathibayapthis Family. What a very nice hospitality! Thank you so much!
Kalau soal Candi atau Wat, di Thailand itu ada banyak sekali namun untuk Chiang Mai, yang terkenal adalah Wat Phra Singh dan Wat Chedi Luang (didalam kota lama). Lalu Wat Ched Yod diluar kota lama dan cukup dekat dengan Hohm Café serta Wat Phra Doi Suthep yang berlokasi diatas bukit. I miss traveling!
 Pay respect to the Buddha Rupam, Wat Phra That Doi Suthep, Chiang Mai - Thailand (taken by Sofyan Yudianto)
Sungguh rasanya traveling itu membuat jiwa ini mendapatkan suplemen vitamin yang luar biasa. Bertukar pikiran dan berinteraksi dengan warga lokal, berbagi pengalaman, belajar toleransi, belajar menjadi pendengar yang baik, mencoba hal-hal yang baru, dll. Sungguh nikmat tiada terperi.
 Buddhist Monk from Sangha Theravada in Wat Phra That Doi Suthep
I definitely will come back to Chiang Mai when there is a chance. Thank you my Chiang Mai friends especially to Nathibayapthis Family! May Force be with Us!

About Nathibayapthis Family
Hohm Cafe                  : https://www.facebook.com/hohmcafe/ 
Owner of Hohm Cafe  : https://www.facebook.com/prietnathi 
Nathibayapthis Group : http://www.nathibayapthis.com/

About Me
Instagram : https://www.instagram.com/yoga.efendi/ 
Facebook : https://www.facebook.com/yoga.efendi.9 
Whatsapp : +6285669307197 (Message Only)


Kamis, 08 Februari 2018

RESOLUSI 2017 DAN FILOSOFI 2018 (MAAF! HANYA BERBAGI)


Gaya bener judulnya?” Suka-suka gua dong! Blog gua ya cara gua, nyinyir amat lu tong!. Ha ha ha…ya Indonesia sejak tahun lalu (mungkin) memasuki era nyinyir. Ah, peduli setan ama orang-orang yang nyinyir! Buang-buang enerji coy! Sehat kagak tapi “sakit” iya. You cannot make everyone happy guys!
Okay guys, this is my first article for 2018. Just like what I’ve wrote in my previous article if “consistence is not easy especially writing article like this”. Imagine, you are writing but you are not getting money from it! You know, I don’t f**k*ng care about money especially in this case because I am writing for sharing.  Yes, sharing to you my special readers. 

Tahun 2017 lalu menjadi tahun the best bagi saya sebagai seorang guide. Kenapa? Selain dapat lumayan banyak job dari Travel Agent, saya juga bisa mengajak keluarga ke Bali dan bisa “menjamu” orang tua ketika mereka datang ke Jogja selama beberapa hari, serta bisa mengunjungi orang tua beberapa hari di Sumatera Selatan.

 Namun, saya belum traveling lagi keluar negeri dikarenakan kendala “dana”. You know, sampai sekarang pun saya masih ngontrak coy! Harga tanah dan rumah di Sleman – Yogyakarta itu bikin kepala geleng-geleng. Super mahal! Jogja memang identik murah tapi soal kuliner coy!. Kalau soal tanah dan properti tidak kalah mahalnya dengan Jakarta. 
Vihara Dhamma Sundara, Surakarta - Jawa Tengah(Kunjungan ke Vihara bersama Group Nalanda)

Beberapa klien yang saya layani sangat berkesan bagi saya. Mereka berhasil “memaksa” saya untuk terus meningkatkan kualitas diri, dan saya menyadari bahwa sebagai guide masih banyak yang harus saya pelajari. Mereka adalah klien dari Mongolia (Tamu Group), Nalanda Buddhist Society Malaysia dan Buddhist Fellowship Singapore (Tamu Group), dan tamu keluarga dari Belgia. 

Mungkin akan saya tuliskan artikel khusus kedepannya. Intinya tahun yang luar biasa. Dan syukurlah, bayar kontrakan juga lancar. Terima kasih kepada para Travel Agent yang mempercayakan tamu-tamunya untuk saya servis. Sedangkan untuk tamu pribadi hanya 3x yaitu dari Singapura, Malaysia, dan Myanmar. Cukup berkesan juga sih. Dan, welcome 2018! Ini adalah tahun LUAR BIASA. Kenapa? 

Angka 2 adalah simbol dualisme dunia demi keseimbangan, angka 0 adalah keheningan atau kehampaan yang bisa juga diartikan meditasi dan konsentrasi, angka 1 adalah ketuhanan atau “manunggal”, angka 8 adalah keberuntungan yang tak terhingga. Well, inilah filosofi 2018 berdasarkan interpretasi saya. Sejak awal Januari 2018, saya tanamkan sugesti positif terhadap diri saya sendiri bahwa tahun ini akan menjadi tahun terbaik!

2018 filosofinya sangat dalam. Terletak unsur “cokro manggilingan”, spiritualisme, refleksi diri, dan keberuntungan hidup. Maksudnya?  

Angka 2. Yang kita harus pahami bersama bahwa hidup dan kehidupan ini memiliki siklus. Terjadinya siang dan malam, adanya matahari dan bulan, api dan air, angkasa dan bumi, mikro kosmos dan makro kosmos, baik dan jahat, serta peradaban gelap dan terang disebut sebagai “Cokro Manggilingan”. Semuanya demi keseimbangan yang terjadi di alam dunia maupun alam ruhani atau spiritual. Alam “abu-abu” juga merupakan bagian dari prinsip ini. Ini menurut interpretasi saya. 

Filosofi 0. Hidup sejatinya adalah ilusi bila melihat dari sudut pandang makro kosmos. Intinya “we are just dust in this universe”. Bila melihat dari kacamata bumi, hidup ini penuh dengan “kemelakatan” atau keinginan-keinginan indrawi. Tidak ada yang salah dengan itu semua karena ini memang sudah resiko kita hidup sebagai manusia. Terkadang, keheningan atau kehampaan atau meditasi dan konsentrasi sangat diperlukan demi menyeimbangkan dan mengontrol keinginan-keinginan tersebut. Caranya pun bermacam-macam. Tergantung manusianya. Itulah filosofi angka 0 bagi saya.

Angka 1. Bahwa setiap manusia memiliki sifat “ketuhanan” didalam dirinya terlepas dari apa warna kulitnya, sukunya, agama atau kepercayaannya, bangsanya, rasnya, dll. Sifat “ketuhanan” ini atau istilah lainnya adalah “God Spot” terletak di kecerdasan spiritual. Sifat yang bisa “dipupuk” dengan berbagai macam metode tergantung dari manusia tersebut. Contohnya sifat “welas-asih”. Ini adalah sifat universal yang bisa dimiliki oleh siapapun. Upaya untuk “memupuk” sifat tersebut merupakan contoh dari “manunggal”. Hubungan manusia dengan apa yang dia percayai. 

Angka 8 merupakan simbol siklus keberuntungan bagi sebagian orang. Enerji yang kembali keasal dan berulang-ulang, siklus yang proporsional, juga ada prinsip keseimbangan disana, enerji yang tak terbatas, dll. Tapi harus hati-hati. Kenapa? Siklus ini tergantung bagaimana manusia meyakini, menyikapi, dan mempraktekan apa yang dia yakini. Karena semua tergantung kepada keyakinan teguh masing-masing. Itulah kenapa untuk tahun ini sugesti positif sangat bagus untuk keberuntungan kita kedepan. 

Well, entah mengapa semenjak bulan lalu sampai sekarang, saya suka berkutat dengan hal-hal filosofis dan spiritual. Saya melakukan hal ini tahun-tahun sebelumnya tapi tahun ini enerji yang saya rasakan lebih besar. Saya sengaja menulis hal ini untuk kawan-kawan agar lebih optimis, sugesti positif, kurangi nyinyir (saya juga kadang masih nyinyir. Ayo kita fighting bareng-bareng), dan teguhkan keyakinan kita untuk suatu hal yang positif. 
Borobudur Sunrise dan Arca Siddharta Buddha Gotama 
Bulan lalu menjadi bulan terbaik saya selama menjadi guide. Lebih banyak bersinggungan dengan hal-hal yang bersifat “Buddhism” dan dapat job-job dadakan sehingga bisa sedikit menambah uang tabungan. Maklum! Bulan Januari-Februari itu low season coy! Dan, tahun ini saya sudah beli tiket Jogja – KL (Pulang - Pergi) tetapi saya belum memutuskan negara mana yang akan saya jelajahi seorang diri. Ya, tahun ini saya akan belajar menjadi seorang Solo Traveler. Mungkin Vietnam – Cambodia atau hanya Cambodia saja. I’ll see tht later.

Awal yang bagus untuk tahun 2018. Dan, walaupun sekarang waktu menunjukkan pukul 01.08 AM, saya semangat sekali menulis artikel ini. Ayo kawan-kawan. Memupuk sugesti positif diawal tahun ini akan bagus untuk keberuntunganmu.

Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...