Senin, 12 Juni 2017

ABOUT “BOROBUDUR (BHUMI SAMBHARA BUDHARA)”

Borobudur from the sky (https://www.lonelyplanet.com/indonesia/java/borobudur)
As a guide from Yogyakarta, I’ve been visited this magnificent Buddhist monument many times together with my clients or Travel Agent’s clients, because Borobudur is top destination in Java. It is famous temple among local tourists, Asian tourists, European tourists, American tourists, and etc. And, as a local guy who lives near this amazing UNESCO World Heritage Site, I am so proud of it. Really really proud!
Well, before you come to Borobudur please read the general information below:
FACTS
Name : Candi Borobudur (Present) or Bhumi Sambhara Budhara (Past)
Location : Borobudur Village, Borobudur sub district, Magelang Regency, Central Java Province,  Java Island, Indonesia.
Founder   : Syailendra Dynasty
Architect : Gunadharma (from India)
Timeline
· 750 – 825 : The project of Borobudur
· 1815 : Found again by local people in Thomas Stamford Raffles’ Regime (The Governor of British Indie Company and The Governor of Java at that time between 1811-1816)
· 1907 – 1911 : The 1st restoration by Theodore van Erp (from Netherland)
· 1973 – 1983 : The 2nd restoration by UNESCO and The Government of Indonesia
· 1991 : UNESCO World Heritage Site no. 592
· 2012 : World’s Largest Buddhist Archeological Site (Guinness World of Records)
Structure and Architecture
· 60.000 m3 lava stones, 123 m x 123 m (the dimension of foundation), 34,5 m (height)
· 10 floors (6 squares, 4 rounds), 504 Buddha statues (432 inside of niches and 72 inside of Stupas).
· 1 Giant Stupa and there are 2.672 the relief of panels (1.212 decorative reliefs and 1.460 story reliefs). From 1460 story of reliefs there are 160 reliefs about Mahakarmawibhangga, 720 reliefs about Jatakamala/Awadana, 120 reliefs about Lalitawistara, and 460 reliefs about Gandawyuha.
It is amazing, isn’t it? This awesome temple was attracting millions of tourists from local and foreigners every year! Many famous people from around the world have been here such as Che Guevara (Sukarno Era), Nehru and Indira Gandi (Sukarno Era), Richard Gere (He is Buddhist by the way), Prince Charles, David Beckham, Mickey Rourke (The Wrestler & Iron Man 2), Kellant Lutz (Twilight Saga), Prince Akishino of Japan, Princess Mahacakri Sirindorn of Thailand, Mark Zuckerberg (CEO Facebook), Prince Haakon and Crown Princess Mette Marit of Norway, and etc.
Princess Mahacakhri Sirindorn of Thailand with her students (www.thejakartapost.com) 
Although Borobudur (8th Century) is about 300 years older than Angkor Wat of Cambodia (11th – 12th Century) but Angkor has bigger size. You have to understand that Borobudur is not a palace or city of temples like Angkor. They have different functions (mostly). Borobudur was a Buddhist Mecca at that time (especially in Southeast Asia), a sacred place, meditation centre, and a study centre. 
 Borobudur Sunrise, famous attraction
Borobudur is just like open library as a source of knowledge, philosophy, science, construction, and architecture.Java had great civilization at that time. Then Angkor Wat was a palace, a city of temples, centre of power, also for praying and offering. The last, Angkor Wat was Hindu palace also. For me, Borobudur and Angkor Wat are all great and magnificent.
Richard Gere in Borobudur a few years ago (https://eightbspezharpalu.wordpress.com/2011/06/27/richard-gere-batal-naik-gajah-di-borobudur/)
I know, visiting Angkor 1 day is not enough and to be honest if you come to Borobudur is the same, as long as you are travelling here not for selfie or taking photos only. If you learn and listening carefully from your guide in Borobudur, exploring the temple and the surroundings, 1 day is not enough! So all are depends on our perspectives my friends. That is why, for me both temples (Angkor and Borobudur) are great! I love both!
Mark Zuckerberg, CEO of Facebook (https://en.tempo.co/read/news/2014/10/13/240613786/Zuckerberg-Visits-the-Borobudur-Temple)
You are absolutely must come to my hometown Yogyakarta and visit Borobudur. You must visit Bhumi Sambhara Budhara minimum once in your lifetime. Borobudur is a kind of prove to young generation if Java was the land of Buddhism long time ago.

Kamis, 25 Mei 2017

8th Jogja Travel Mart (JTM) 2017, an Amazing Event! (Part I)



Merapi Volcano Tour, salah satu destinasi utama di Yogyakarta 

 “I knew about JTM some years ago and thanks to the Lord finally I was participated as an official guide for serving delegates from Singapore, Malaysia, and Vietnam in Yogyakarta Special Region at 15th – 19th May 2017. It was an honor for me. There are more than 140 buyers from Europe, Southeast Asia, South Asia, East Asia, and even America were participated this amazing event, once a year event!. 
Yeah, Yogyakarta has everything for tourism (ancient temples like Borobudur – Prambanan – Ratu Boko, palaces (Kraton), museums, beaches (white sand and black sand), caves (tubing and exploring), rivers, adrenaline attractions like Pantai Timang – Paragliding Parangtritis – Tubing Kalisuci – Goa Jomblang, volcano (Merapi), lake, waterfalls, ancient volcano (Nglanggeran), forests, shopping, cuisines, and cultural attractions)”. 

Saya selalu yakin bahwa yang namanya rizki itu Tuhan yang mengatur. Manusia diwajibkan untuk terus berdoa dan berusaha dengan gigih serta ulet. Maka setelah itu, pasrahkan semua kepada Tuhan. Sebenarnya awal mula saya mendapatkan tawaran job sebagai pemandu atau guide di acara ini tidaklah disengaja. Seorang guide senior Bahasa Inggris mengirimkan pesan kepada saya, apakah saya masih available?

Karena memang saya belum ada tawaran job lain, maka tawaran ini pun saya terima dengan senang hati. Setelah saling bertukar pesan dengan salah satu panitia, maka secara positif saya akan menjadi guide untuk melayani tamu-tamu dari Kemenpar (Kementerian Pariwisata) pada perhelatan spesial tersebut. Bagi saya pribadi, ini adalah pengalaman yang baru selama hampir 4 tahun menjadi guide professional

Untuk sekedar info bagi teman-teman semua, bahwa profesi guide profesional yang bersertifikat dan berlisensi itu ada beberapa tingkatan seperti Spesial Guide, City Tour Guide dan General Tour Guide. Masing-masing tingkatan tersebut memiliki job deskripsi yang berbeda-beda. Jangan disamakan dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai “guide” tanpa bisa menunjukkan bukti lisensi. Lisensi adalah nyawa bagi seorang guide. Semoga dengan penjelasan singkat ini, teman-teman bisa memahami sedikit dunia kepemanduan. 

Karena ada lebih dari 140 delegasi dari berbagai negara, maka tentu saja diperlukan banyak guide. Ada guide khusus yang melayani tamu delegasi dari Thailand, India, dan lain-lain. Hari pertama dari pagi sampai sore saya wira-wiri bandara Adisucipto – Sahid Jaya Hotel (untuk registrasi) – Hotel Eastparc, karena memang tamu-tamu delegasi yang saya layani menginap di Hotel Eastparc namun jadwal kedatangan mereka ke Yogyakarta dalam 1 hari berbeda-beda. 
Spesial Dinner dan "Opening Ceremony"

Wira-wiri dari pagi sampai sore itu capek cuy! Tetapi inilah bagian pekerjaan yang harus dilalui. Semua pekerjaan itu tidak akan terasa terlalu capek jika dilaksanakan dengan ketulusan hati. Kemudian pada malam hari ada spesial dinner dan “opening performance” yang wow! Spektakuler cuy! Apalagi lokasinya di Bangsal Kepatihan yang notabene masih satu area dengan Kantor Gubernur DIY. Bagi saya ini “unforgettable moment”. Kalau tidak mengikuti acara-acara khusus, mana boleh sembarang orang memasuki Bangsal Kepatihan? 

Saya amati setiap delegasi terpukau dengan segala pertunjukan yang ada, khususnya tari-tarian khas Gaya Yogyakarta dengan sentuhan gaya kontemporer dan lighting yang memukau. Tidak sedikit penonton yang berkali-kali memberikan “applause”. Makan malamnya pun juara, kelas internasional! Sungguh pihak penyelenggara sangat-sangat serius menjamu setiap delegasi yang hadir. Tamu-tamu delegasi yang saya bawa mengakui bahwa Jogja Travel Mart (JTM) 2017 ini merupakan yang terbaik dibandingkan dengan perhelatan-perhelatan sebelumnya.
Borobudur adalah ikon wisata untuk destinasi Joglosemar (Jogja - Solo - Semarang)

          Saya pribadi mengamati pemerintahan Jokowi – JK sangat serius menggenjot pariwisata Indonesia agar terus berkembang. Pemerintah memberikan tugas kepada Kemenpar untuk menarik 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2019 dengan fokus destinasi wisata di 10 Destinasi Prioritas atau 10 Bali Baru (Borobudur, Danau Toba, Morotai, Bromo, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu, Mandalika, Labuan Bajo, dan Wakatobi). Untuk tahun 2017 ini, target Kemenpar adalah 15 juta wisatawan asing untuk seluruh destinasi yang ada di Indonesia. 

Tahukah teman-teman, bahwa pencapaian nilai investasi pariwisata Indonesia hingga bulan Mei 2017 ini sudah mencapai USD 525 juta, terjadi peningkatan 2x lipat dibandingkan realisasi pada tahun 2016 dibulan yang sama. Super cool!. Dan, untuk peringkat destinasi wisata Indonesia di dunia saat ini berada diurutan 42. Maka dari itu, untuk tahun 2017 Kemenpar memiliki target agar peringkat Indonesia berada di ranking 30.
Sedangkan untuk wisata muslim sendiri, Indonesia sekarang berada diperingkat ketiga dunia versi Indeks Wisata Muslim Global (GMTI) Mastercard-Crescent Rating 2017. Suatu prestasi yang membanggakan! Saya sendiri sebagai pelaku wisata dan ujung tombak pariwisata Indonesia ikut bangga.
 
Candi Sewu, salah satu candi penting yang berada di kawasan Prambanan

Perhelatan seperti Jogja Travel Mart (JTM) ini memang harus terus diadakan setiap tahun untuk meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Yogyakarta. Dengan event seperti ini, para pemilik Travel Agent asing akan mendapatkan sesuatu yang baru setiap tahunnya tentang destinasi-destinasi baru yang lagi “hits” di Jogja. Kemudian pada akhirnya, mereka akan membuat paket wisata khusus yang bisa ditawarkan kepada klien mereka. 

Senin, 13 Februari 2017

Bali dulu… Bali sekarang…


(Suatu ungkapan dari hati untuk Bali dan reklamasi)

Tanah Dewata, Berkah Hyang Widi Wasa
Mempesona Beta, Mempesona jutaan manusia
Hindu Dharma filosofi warganya
Tradisi terpatri dalam kehidupannya…
Yoga Efendi
Poster Bali Tolak Reklamasi 
Sebagai seorang pramuwisata atau “professional tour guide” dari Tanah Jawa, Bali adalah anugerah. Karenanya, aku juga mendapatkan rizki. Pulau ini nampak memiliki semacam “daya magis” yang sangat kuat. Daya magis dalam artian positif. Dari dahulu kala hingga kini, Bali tetap menjadi primadona dunia pariwisata Indonesia. 

“Tak kenal , maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta” begitulah kata banyak orang. Kalau soal kenal, aku kenal Bali sejak tahun 2004. Tahun sakral bagiku. Tahun suka cita. Tahun “sweet memory”. Ya, begitu manis perkenalanku dengan Tanah Dewata ini.

Dari kenal, menuju tahap keingintahuan. Sedikit banyaknya aku tahu betapa istimewanya Pulau Bali bagi Indonesia dan dunia. Sudah puluhan kali aku mengunjunginya dalam kurun masa 3 tahun terakhir ini. Begitu seringnya, membuatku ingin mengerti lebih dalam.

3 tahun terakhir ini pula sudah aku kunjungi Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Hal ini membuat aku puas, memang. Bangga itu pasti. Tetapi, tahun 2017 ini entah mengapa hasrat dalam jiwa begitu kuat untuk menjelajahi Bali kesekian kalinya. Menjelajahi pesona salah satu Bumi Pertiwi. Mengapa? Karena aku mengikuti kata hatiku. Aku seorang penjelajah. Aku mengikuti ilham. Aku mengikuti insting dan naluri penjelajahku.

Teringat aku Bali pada tahun 2004 begitu molek. Begitu indah. Begitu romantis. Begitu magis. Bali pada tahun 2017 semakin indah, semakin romantis, semakin ramai, semakin bersolek, semakin dan semakin lainnya. Jutaan pujian kusematkan untuk Bali. Jujur aku akui, “Bali is wonderful”. 

Nobody is perfect, tak ada seorang pun yang sempurna”, sebagaimana halnya “tak ada gading yang tak retak”. Bali pun semakin materialis, semakin hedonis, semakin bebas, dan semakin serta semakin lainnya. Namun, tidak semua ternyata wahai kawan-kawanku semua. Tidak semua. Karena Tanah ini Tanah Dewata. Manusia Bali sangat percaya akan Tanah-Nya. 

Masih banyak manusia Bali yang memegang teguh tradisi, tetapi juga tidak sedikit ikut arus modernisasi dan globalisasi. Pada akhirnya, kita semua harus mengikuti perubahan jaman, bukan? Namun harus tetap menjaga identitas. Identitas sebagai Manusia Bali, identitas sebagai Manusia Indonesia. Kini, Bali mendapat tantangan keserakahan manusia. Apakah itu dari kaumnya sendiri, dari bangsa asing, atau suku-suku dari luar Bali. 

Ini ujian Bali. Dimana-mana aku menjelajah berbagai lokasi  di Tanah Surga ini, kulihat dan kuamati banyak papan baliho disudut-sudut jalan “Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa”. Rakyat Bali menolak!. Mengapa? Bukankah reklamasi demi kemajuan Pulau Bali? Kesejahteraan Rakyat Bali? Bukankah seharusnya Rakyat Bali bangga jika Tanah ini semakin populer dan maju? Apakah benar semua Rakyat Bali menolak?. Begitu banyak pertanyaan dalam benakku. Membuatku gelisah. 

Tetapi aku tidak hidup di Bali. Mengerti apa aku? Paham apa aku soal ini? Namun aku mengamati sebagian Rakyat Bali sedang memperjuangkan sesuatu. Mereka berjuang karena mencintai Tanah ini. Teringat aku akan Monumen Bajra Sandhi yang merupakan monumen peringatan bahwa Rakyat Bali itu pejuang. 

Reklamasi adalah tantangan nyata bagi Rakyat Bali. Walaupun Bali juga memiliki berbagai tantangan yang lain, tetapi reklamasi adalah persoalan bersama. Melalui tulisan ini, aku mendukung perjuangan kalian teman-teman Bali. Ketahuilah, bahwa kalian tidak sendiri. Melalui tulisan ini pula, aku menyeru kepada seluruh pembaca yang peduli untuk mendukung petisi “Bali Tolak Reklamasi”. 

Jangan biarkan Rakyat Bali berjuang sendiri kawan-kawan, karena Kita itu Indonesia. Jangan biarkan “tangan-tangan” jahil merusak Teluk Benoa. Merusak alam Bali demi keuntungan segelintir golongan atau kaum. Dari Jogja untuk Bali.

Bagaimana cara mendukungnya? Silahkan isi petisi berikut ini


Official Webiste Bali Tolak Reklamasi (Buka linknya dan baca) :

Petisi "Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa" :

Tontonlah film "Kala Benoa" agar kita paham mengapa Rakyat Bali menolak
YouTube :
1.  https://www.youtube.com/watch?v=ZSLINcvqKCQ (Trailer Kala Benoa)

Para artis dan seniman pendukung "Bali Tolak Reklamasi"
 YouTube :

Klik “like” dan “share” pages berikut :
Facebook :
1. https://www.facebook.com/forbali13/ (Page Bali Tolak Reklamasi)
2. https://www.facebook.com/JRXSID/ (Musisi pendukung Tolak Reklamasi “JRX”)

Twitter :
Hash tag #balitolakreklamasi
Hash tag #tolakreklamasitelukbenoa  

Entri yang Diunggulkan

Kawah Ijen

(A volcano with green lake, sulfur mining, blue fire, and amazing trekking route) If you are reading my articles, you will ge...